Baru saja bertekad jadi orang tua yang sabar dan lemah lembut, tapi kok  anak suka banget “menguji batas”, ya, Mam? Yang tadinya ingin konsisten menerapkan gentle parenting, langsung banting setir ke VOC parenting deg. Jadi bingung sendiri—ini sebenarnya nggak konsisten, atau memang gaya parenting itu sebaiknya perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi? Yuk, kenali VOC parenting vs gentle parenting dan apakah gaya pengasuhan ini sebaiknya memang dikolaborasikan?

Baca Juga: Sudah Jadi Orangtua, Gen Z Pilih Terapkan Pola Asuh Ini!

VOC Parenting vs Gentle Parenting: Apa Itu?

VOC parenting sebenarnya bukan istilah resmi, melainkan bahasa gaul untuk menggambarkan pola asuh yang tegas, disiplin, dan penuh aturan. Fokusnya adalah memastikan anak memahami batasan dengan jelas, termasuk konsekuensi jika melanggar. Pendekatan ini biasanya muncul saat anak mulai menguji batas, seperti menolak aturan, tantrum berlebihan, atau mengabaikan instruksi.

Sementara itu, gentle parenting adalah gaya pengasuhan yang menekankan empati, komunikasi, dan memahami emosi anak. Dalam pendekatan ini, anak tidak hanya diberi tahu “apa yang salah”, tetapi juga diajak memahami “kenapa hal itu tidak boleh dilakukan”.

Dalam praktiknya, gentle parenting cocok digunakan saat anak sedang belajar mengenali emosi atau butuh didengar. Sedangkan mode VOC bisa diterapkan ketika anak mulai melanggar batas yang sudah jelas atau berulang kali mengabaikan aturan.

Baca Juga: Apa Itu Tough Love Parenting: Pro, Kontra, dan Jalan Tengahnya

Cara Menyeimbangkan VOC Parenting dan Gentle Parenting

Kalau bicara soal gaya parenting, sebenarnya ini bukan tentang mana yang paling benar atau paling ideal. Parenthood itu proses panjang dan dalam praktiknya, nggak selalu bisa “saklek” harus lembut terus atau tegas terus. Ada hari ketika Mama bisa super sabar, tapi ada juga momen Mama harus lebih tegas supaya anak paham batasannya.

Di sinilah pentingnya keseimbangan. Tujuannya bukan sekadar membuat anak menurut, tapi juga memastikan kebutuhan emosinya tetap terpenuhi, sekaligus belajar mana yang boleh dan tidak. Karena pada akhirnya, orang tua lah yang punya peran terbesar dalam membentuk nilai dan kebiasaan anak. Nggak mau, kan, Mam… kalau nanti “kehidupan” menegur anak dengan cara yang lebih keras?

Nah, berikut beberapa cara yang bisa Mama terapkan untuk menyeimbangkan keduanya.

1. Validasi Emosi Anak tapi Tetap Pegang Aturan

Saat anak marah atau kecewa, penting untuk mengakui perasaannya terlebih dahulu. Namun, itu bukan berarti aturan jadi berubah. Misalnya, Mama bisa mengatakan, “Mama tahu kamu kesal,” sambil tetap mempertahankan batasan yang sudah disepakati. Dengan begitu, anak tetap merasa dipahami tanpa membuatnya berpikir berhak bebas berbuat semaunya.

Baca Juga: Gentle vs Permissive Parenting: 5 Perbedaan Paling Mendasar

2. Bedakan Sikap Tegas dan Keras

Banyak yang mengira tegas itu identik dengan nada tinggi atau lewat kekerasa. Padahal, ketegasan justru lebih efektif jika disampaikan dengan tenang dan konsisten. Anak akan lebih mudah memahami pesan jika Mama tidak terbawa emosi, tetapi tetap jelas dalam menyampaikan aturan.

3. Tidak Semua Hal Bisa Ditoleransi

Bersikap gentle tidak sama dengan memaklumi semua perilaku anak tanpa batas. Ada nilai-nilai dan adab yang tetap perlu dipegang teguh, terutama yang berkaitan dengan keamanan, kebiasaan, dan sopan santun. Dalam hal ini, mode VOC kadang dibutuhkan agar anak memahami konsekuensi dari perilakunya.

Baca Juga: Menghadapi Komentar Keluarga Tentang Pola Asuh: Tips Tetap Tenang Tanpa Baper

4. Pahami Situasi dan Kondisi

Tidak semua situasi harus direspons dengan cara yang sama. Ada momen ketika Mama bisa lebih fleksibel, misalnya saat anak lelah atau sedang butuh perhatian. Namun, ada juga kondisi di mana Mama perlu tegas, terutama jika perilaku tersebut berulang atau melanggar aturan penting—apalagi sampai merugikan orang lain.

5. Gunakan Konsekuensi untuk “Kasih Paham”

Alih-alih memarahi anak, Mama bisa memberikan konsekuensi yang relevan. Misalnya, jika anak tidak merapikan mainan, maka mainan tersebut disimpan sementara. Cara ini tetap tegas, tetapi tidak melibatkan emosi berlebihan yang bisa melukai anak.

Baca Juga: Strategi Disiplin Positif: Cara Efektif Membentuk Perilaku Baik Tanpa Marah-marah

6. Jaga Konsistensi dalam Menerapkan Aturan

Seringkali orang tua menahan emosi terlalu lama, lalu akhirnya “meledak”. Padahal, yang lebih efektif adalah konsistensi dalam aturan kecil sehari-hari. Dengan begitu, Mama tidak perlu sering marah besar karena anak sudah memahami batasannya sejak awal.

7. Bangun Koneksi Lewat Interaksi Positif

Ketegasan akan lebih mudah diterima jika hubungan emosional anak dan orang tua terjalin hangat. Luangkan waktu untuk bermain, ngobrol, atau hadir tanpa distraksi. Anak yang merasa dekat dengan orang tuanya cenderung lebih kooperatif dan mudah diarahkan.

Baca Juga: Balanced Parenting: Seni Menjadi Orang Tua yang Seimbang dan Sehat Mental

Jadi orang tua yang “seimbang” bukan berarti Mama harus 50:50 dalam setiap situasi. Mama tetap perlu membaca kondisi, memahami kebutuhan anak, dan merespons dengan cara yang paling tepat. Dengan begitu, anak tetap merasa aman dan didengar, tapi juga belajar bahwa setiap tindakan punya batasan dan konsekuensi.

Untuk mendukung proses ini, Mama bisa memanfaatkan aktivitas bermain sebagai media belajar yang natural. Mainan yang tepat bisa membantu anak belajar aturan, kesabaran, hingga kontrol diri tanpa terasa seperti “diajarkan”.

Di Mamasewa, tersedia berbagai mainan yang bisa disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Dengan sistem sewa, Mama bisa lebih fleksibel memberikan stimulasi tanpa harus membeli semuanya. Lebih praktis, hemat, dan tetap mendukung pola asuh yang seimbang.

Tinggalkan Balasan