pola asuh kakek nenek vs ayah ibu

Pola Asuh Kakek Nenek vs Ayah Ibu, Mana yang Lebih Baik?

Pola Asuh kakek nenek vs ayah ibu, mana yang lebih baik? Kehadiran kakek nenek memang penting dalam kehidupan anak-anak, Meskipun begitu, intervensi berlebihan dari pihak mereka berpotensi mempengaruhi hubungan kalian ke depannya, lho, Mam. 

Hubungan antara kakek nenek dan cucu yang terbaik adalah hubungan yang didukung oleh orang tua. Tidak terlalu ikut campur dan membiarkannya berkembang secara natural. 

Tentu saja, ini tidak selalu mudah, terutama jika Mama tidak selalu setuju dengan hal-hal yang dilakukan orang tua Mama. Juga seringkali merasa ide dan tindakan pola asuhnya adalah yang terbaik. 

Berikut beberapa perbedaan pola asuh antara kakek nenek dan ayah ibu, yang tidak sedikit menimbulkan pertentangan di antara keduanya. Disimak baik-baik, ya, Mam! 

Pola Asuh Kakek Nenek vs Ayah Ibu dari Segi Disiplin

pola asuh kakek nenek vs ayah ibu
Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Percaya atau tidak, kebanyakan orang tua menerapkan pola asuh super ketat kepada anak-anaknya, Mam, sebagaimana dilansir dari laman Bower, anak-anak dituntut untuk mengikuti rutinitas supaya menjadi orang hebat dan sukses di masa depan. 

Mulai dari berperilaku baik, makan makanan sehat, hingga tidur tepat waktu, semua sudah diatur oleh orang tua. Bagi anak-anak, ini bisa terasa sangat melelahkan jika dijalani secara terus-menerus, lho, Mam.

Inilah sebabnya kehadiran kakek nenek menjadi tempat pelarian anak-anak; untuk melegakan perasaan mereka. Saat bersama kakek nenek, anak-anak cenderung merasa lebih aman, disebabkan pola asuh unik yang diterapkan kakek nenek. Tidak terlalu kaku dan ketat bilamana anak-anak melakukan “kesalahan”.

Misal pada waktu makan. Kakek nenek lebih santai ketika meminta anak-anak untuk mencuci piring mereka, membolehkan anak-anak makan junk food, atau menonton televisi sambil makan-minum. Berbeda dengan orang tua yang cenderung lebih ketat terhadap peraturan ini. 

Anak-anak pun akan memandang kakek nenek sebagai seseorang yang bijaksana, ramah-bersahabat, dan menjadi tempat pelarian ketika bermasalah dengan Papa Mama. Ada kemungkinan besar anak-anak lebih mendengarkan nasihat-nasihat dari kakek nenek.

Meski begitu, Mama tidak perlu mengakhawatirkan apakah hubungan Mama dengan anak-anak akan merenggang. Menurut Li dkk (2015) dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Children’s Bonding with Parents and Grandparents and Its Associated Factors, dari segi hubungan emosional anak-anak merasa lebih dekat dengan Mama, meski ia sering berinteraksi dengan kakek nenek.

Pola Asuh Kakek Nenek vs Ayah Ibu dari Segi Psikologi

Pola asuh kakek nenek vs ayah ibu
Photo by Kelli McClintock on Unsplash

Akan tetapi, memaklumi perilaku “kurang baik” anak-anak juga bisa merugikan mereka. Mengutip pendapat Dr. Jennifer Hartstein, seorang psikolog anak, remaja, dan keluarga berkewarganegaraan Amerika Serikat, perilaku kakek nenek dalam memanjakan anak-anak secara berlebihan tidak bagus untuk anak-anak. 

Apalagi jika memberikan hadiah tanpa woro-woro. Apakah anak-anak layak untuk menerima hadiah tanpa perlu berusaha — itulah yang dilakukan oleh kebanyakan kakek nenek. Membiarkan anak-anak menikmati kemewahan dengan mudah dan menyenangkan.

Sebagai orang tua, tentu Mama memandang hal ini tidak baik untuk anak-anak dalam jangka panjang. Karena, anak-anak tidak akan pernah belajar bagaimana cara menghargai uang. 

Maka itu, Mama perlu mengutarakan keresahan ini pada kakek nenek, sebisa mungkin dari sekarang. Mintalah kepada mereka dengan santun untuk membatasi pemberian hadiah atau perbuatan memanjakan anak lainnya.

Pola Asuh Kakek Nenek vs Ayah Ibu dari Segi Edukasi

Pola asuh kakek nenek vs ayah ibu
Photo by Elisabeth Wales on Unsplash

Kebanyakan orang tua mendidik anak-anak dengan mendorongnya aktif dalam berbagai kegiatan, entah itu menjadi sukarelawan di sekolah, bintang olahraga, membantu guru dan teman, dan lain sebagainya. Biasanya, orang tua akan membagikan cerita betapa aktif dan prestatifnya mereka di lingkungan, dengan harapan bisa memotivasi anak-anak.

Lain halnya dengan kakek nenek, kebanyakan dari mereka mementingkan metode mendidik anak dengan membacakan kisah-kisah sederhana dan mengulang pelajaran asyik di sekolah kepada anak-anak. 

Mereka pun percaya kalau bermain merupakan sarana terpenting dalam mendidik anak-anak. Mengajaknya pada permainan anak-anak yang populer dan edukatif, seperti bermain rumah-rumahan, bersepeda, menari, dan apapun itu yang dirasakan sangat menyenangkan.

Tapi, menurut Lasota dalam studinya yang mempelajari perbedaan antara cara mengedukasi anak Papa Mama dan kakek nenek, kakek nenek lebih efektif dalam menceritakan pengalaman hidup dengan perspektif yang unik dan mendalam. Papa Mama lebih diperhatikan anak dalam hal keterampilan khusus, nilai sosial, dan moral kehidupan.

Dengan demikian bukankah berarti Papa Mama lebih baik mengajarkan keterampilan khusus kepada anak sedini mungkin, supaya bisa menjadi orang dewasa hebat di masa mendatang?

Misal, dengan menyewa beberapa mainan edukatif di Mamasewa, Mama bisa mengajarkan beberapa keterampilan hidup, seperti membiasakan diri membereskan peralatan sesudah dipakai, mengelola waktu, dan melatih kejujuran. 

Mama bisa menekankan kepada mereka untuk menjaga mainan sewaan sebaik mungkin. Ingatkan dengan lembut dan sabar, apa saja dampak buruk yang akan anak-anak terima ketika tidak melakukan ini sesuai arahan Mama. Seperti ke finansial kekeluargaan misalnya, di mana anak-anak akan kesulitan mendapatkan keinginan berikutnya di masa mendatang.   

Itulah sedikit pembahasan mengenai pola asuh kakek nenek vs ayah ibu, yang pada intinya keduanya sama-sama baik. Tapi akan menjadi hal buruk jika hanya mengandalkan salah satunya. Jadi, sebelum bekerja sama dengan kakek nenek dalam hal pola asuh, usahakan sudah memikirkannya dengan Papa secara matang, ya, Mam!

Cara Mendidik Anak

5 Cara Mendidik Anak secara Umum, Sesuaikan dengan Karakternya!

Cara Mendidik Anak

Tidak sedikit Mama di luar sana yang masih kebingungan bagaimana cara mendidik anak yang baik. Meski memang tidak sedikit panduan atau acuan yang dikemukakan oleh para ahli di bidangnya, tetap saja satu dan lain hal Mama harus benar-benar cermat dalam membaca suasana. Penerapan cara mendidik seorang anak sendiri sebenarnya memiliki satu kunci utama : konsistensi.

Masa anak-anak merupakan masa penting untuk meletakkan dasar tumbuh kembang, agar ia bisa menjadi seorang yang berkualitas. Tidak sedikit kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk sejak anak-anak, dan bertahan hingga ia dewasa kelak. Nah, untuk menemukan cara mendidik anak yang tepat, ada baiknya Mama berkonsultasi dengan tenaga ahli, dengan mempertimbangkan karakteristik si Kecil. Pada titik inilah hal-hal unik dan khas dimiliki si Kecil, sehingga perlu adaptasi yang tepat pada tips dan trik yang sudah ditentukan sebelumnya.

Selalu Menjadi Contoh untuk si Kecil

Cara Mendidik Anak

Jika diibaratkan, anak-anak adalah selembar kain putih yang masih kosong dan polos. Ia akan menyerap berbagai hal yang ditemuinya, yang dialaminya secara langsung. Ini mengapa, sangat penting untuk Mama dan orang dewasa lain yang ada di dalam rumah memberikan contoh perilaku yang diharapkan.

Sederhana saja, misalnya berkata dengan jelas, lembut, dan nada yang santun. Jika setiap orang dewasa di dalam rumah melakukan ini ketika berkomunikasi, maka si Kecil akan terpapar secara terus menerus dengan hal ini. Perlahan tapi pasti, ia akan mengadaptasi cara berkomunikasi tersebut.

Tidak Hanya Menyoal Bicara, Namun Juga Mendengarkan

Menerapkan dan mengajari si Kecil kebiasaan mendengarkan dengan baik juga jadi poin besar dalam cara mendidik anak jadi pribadi yang baik. Terkadang, begitu banyak hal yang ingin Mama sampaikan pada si Kecil, dan lupa bahwa si Kecil juga memiliki pemikiran dan perasaan yang perlu disampaikan. Secara rutin, jalin komunikasi yang seimbang. 

Ada kalanya Mama berbicara dan si Kecil mendengar, dan sebaliknya. Dengarkan dengan cermat apa yang dikatakan si Kecil, berikan tanggapan dengan baik pula. Si Kecil akan merasa dihargai dan memiliki hak untuk didengarkan. Pada waktu yang bersamaan, ia akan memahami betapa didengarkan ketika berbicara terasa nyaman, dan ia akan menyerap kebiasaan ini.

Menyediakan Waktu untuk si Kecil

Cara Mendidik Anak

Hal paling berharga yang bisa Mama berikan untuk si Kecil, guna mendidiknya adalah waktu. Waktu khusus untuk bersama si Kecil sangat diperlukan, karena kehadiran Mama secara langsung bisa sangat berdampak baik untuknya. Sekedar bermain bersama dengan mainan edukatif, atau beraktivitas di taman belakang rumah, atau mengajaknya bepergian, bisa sangat berarti untuknya. Quality time ini harus dilakukan secara rutin agar si Kecil mendapat perhatian dan kasih sayang langsung, sehingga ia merasa dekat dengan Mama secara emosional.

Jika Mama memerlukan mainan berkualitas dan edukatif, Mama tinggal mencarinya di marketplace atau layanan persewaan mainan. DI sana akan disediakan rekomendasi terbaik yang sesuai dengan usia si Kecil.

Konsistensi adalah Cara Mendidik Anak Paling Penting

Dalam membangun kebiasaan baik dan memberikan pendidikan informal di rumah, konsistensi adalah satu hal yang penting. Cara mendidik anak yang dilakukan dengan konsisten akan memudahkan si Kecil menyerap apa yang Mama ajarkan. Perlahan ia akan belajar pola perilaku yang benar, yang selalu ditunjukkan oleh Mama.

Ketika konsistensi terjaga, si Kecil mudah menyerap apapun stimulus yang Mama berikan. Sebaliknya, ketika Mama tidak konsisten, ia akan menjadi bingung dan kesulitan mengadaptasi kebiasaan yang ingin diajarkan. Meski kapasitas belajar si Kecil sangat besar, namun jika tidak menemukan pola yang dapat dipahami ia tetap akan kesulitan dalam belajar.

Jangan Ragu Memberikan Teguran dan Apresiasi

Cara Mendidik Anak

Memberikan apresiasi dan teguran pada apapun yang dilakukan si Kecil akan jadi cara mendidik anak yang selanjutnya. Kedua hal ini, harus disampaikan dengan cara berkomunikasi yang baik agar si Kecil mendapatkan poin utamanya. Bahwa Mama menghargai apa yang dilakukan si Kecil, bahwa Mama memperhatikan secara detail apa yang si Kecil lakukan, kemajuan yang dibuatnya, serta Mama ingin si Kecil tumbuh dengan baik dengan memberikan teguran pada kesalahan yang dilakukannya.

Memang memerlukan kesabaran yang luar biasa untuk selalu bisa memberikan teguran dan apresiasi yang tepat. Namun, bukankah itu merupakan tugas orang tua? Dengan pujian dan teguran, si Kecil akan menyadari bahwa Mama juga memperhatikannya setiap saat. Si Kecil juga akan cepat belajar mengenai batasan-batasan, antara yang baik dan kurang baik, dengan bimbingan Mama.

Memahami cara mendidik si Kecil memang bukan hal yang mudah. Dengan segala keunikan dan karakteristik khasnya, anak-anak benar-benar memerlukan perlakuan yang tepat agar dapat tumbuh dengan optimal. Baik secara psikis atau secara fisik, stimulus yang konsisten wajib diberikan padanya.

Setelah melihat cara mendidik anak yang disebut di atas, apakah Mama setuju? Well, cara-cara tersebut sifatnya hanya acuan saja untuk membantu Mama menemukan gambaran besarnya. Untuk stimulus yang tepat sendiri, selain kehadiran Mama secara langsung, penggunaan mainan dan perangkat merawat anak-anak yang berkualitas juga bisa mendukung usaha Mama. Tak perlu membelinya, Mama cukup mengunjungi mamasewa.com untuk mendapatkan alat dan mainan edukatif berkualitas. Cukup dengan melakukan sewa, Mama bisa menggunakan segala alat dan mainan dengan harga yang terjangkau.

pola asuh anak

Ragam Pola Asuh Anak yang Wajib Dipahami Orang Tua

pola asuh anak

Pola asuh merupakan metode mengenai cara mendidik anak yang harus dipahami orang tua. Penerapan pola asuh anak yang tepat untuk si Kecil dapat membantu optimalkan tumbuh kembangnya. Kebutuhan dasar dalam pengasuhan anak seperti asah, asih, asuh harus dipenuhi agar ia tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Dalam proses pengasuhan, kebutuhan stimulasi, emosi dan afeksi, serta kebutuhan fisik si Kecil harus dipenuhi. Tentu orang tua memiliki harapan agar setiap tahapan tumbuh kembang si Kecil berlangsung tanpa hambatan dan masalah. Maka dari itu penting untuk menerapkan pola asuh yang dapat diadopsi untuk mengasuh si Kecil. Yuk, simak apa saja jenis pola asuh yang wajib dipahami orang tua berikut ini.

1. Pola Asuh Permisif

Membesarkan si Kecil dengan pola asuh permisif cenderung membolehkan anak berperilaku sesuai kehendaknya, tanpa memberi batasan-batasan yang tegas. Ciri khas pola asuh ini yaitu orang tua jarang menerapkan aturan-aturan tertentu kepada anak dan tidak memberikan hukuman saat ia melakukan pelanggaran.

Ketika menerapkan pola asuh ini, hubungan orang tua dan anak lebih dekat dan hangat karena interaksi terjalin dengan baik. Si Kecil cenderung nyaman dengan pola asuh permisif, sebab ia merasa dibebaskan pada pilihan-pilihannya sendiri. Si Kecil yang terbiasa dengan pola asuh permisif berpotensi menjadi anak yang kreatif karena bebas berekspresi sesuai karakternya. Namun, pola asuh anak yang permisif juga bisa memberikan dampak yang kurang baik untuk anak, misalnya ia terlalu bebas dan tidak memahami batasan jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.  

pola asuh anak

2. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter merupakan pengasuhan dengan peran orang tua mendominasi dalam pengambilan keputusan untuk si Kecil. Pendapat orang tua adalah yang paling benar untuk menetapkan aturan untuk si Kecil. Sehingga, jika orang tua menerapkan pola asuh ini anak cenderung memiliki karakter yang patuh dan disiplin.

Berkebalikan dengan pola asuh permisif, pola asuh otoriter justru memberikan batas-batas yang tegas dan bersifat kaku. Si Kecil cenderung harus mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan, akan mendapatkan hukuman jika melanggarnya. Efek jangka panjang pada anak yaitu tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri dan takut jika berpendapat berbeda dari orang tuanya. Sehingga, si Kecil mungkin sulit mengungkapkan pendapat-pendapatnya. Hal ini dapat memicu kecemasan pada anak bahkan stres.

Saat si Kecil sering menyimpan pendapatnya sendiri dan sulit mengungkapkan kepada orang tua, akhirnya ia akan memendam apa yang dirasakan. Kondisi ini dapat membuatnya sulit memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Selain itu, si Kecil cenderung akan memiliki emosi yang meledak-ledak di masa mendatang.

3. Pola Asuh Abai

Orang tua yang memiliki kesibukan biasanya tak sadar menerapkan pola asuh abai pada si Kecil. Kebutuhan tumbuh kembang anak pun tidak dapat terpenuhi secara utuh, karena terlalu sibuk dengan urusan pribadi, seperti mengurus pekerjaan, keuangan, atau kepentingan lainnya. Pola asuh abai cenderung hanya memenuhi kebutuhan fisik si Kecil saja seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Sementara kebutuhan emosional dan psikologis anak terabaikan.

Ketika tumbuh dewasa, si Kecil akan mulai menyadari bahwa orang tuanya cenderung abai. Sehingga mau tak mau ia harus menjadi anak yang mandiri. Pola asuh ini dapat meninggalkan dampak yang tak baik pada si Kecil karena ia merasa tidak diperhatikan. Dampak yang mungkin terjadi dari pola asuh abai pada si Kecil yaitu nilai akademis yang buruk, kesulitan menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain, dan emosional yang tidak stabil.

4. Pola Asuh Demokratis

pola asuh anak

Pola asuh demokratis dinilai sebagai tipe pola asuh yang paling ideal. Penerapan pola asuh demokratis dapat dikatakan sebagai kombinasi antara pola asuh anak otoriter dan permisif yang dipadukan secara seimbang sesuai kebutuhan tumbuh kembang si Kecil. Orang tua cenderung menjadi pedoman dan penentu aturan bagi si Kecil. Namun, dalam pola asuh ini orang tua harus mendengarkan setiap pendapat si Kecil dan memberikan dukungan.

Dalam menentukan aturan untuk si Kecil, batasan yang diberikan tidak terlalu kaku. Si Kecil tetap akan dikenakan konsekuensi jika melanggar aturan, namun jika kesalahan yang dilakukan masih bisa dimaafkan, hukuman tidak perlu diberikan. Adanya batasan-batasn yang lebih fleksibel bertujuan untuk memberikan ruang komunikasi antara orang tua dan anak agar hubungan keduanya terjalin baik.  

Nah itu dia Ma, ragam pola asuh anak yang wajib dipahami orang tua, jadi Mama pilih yang mana? Menentukan pola asuh anak yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil sangat penting untuk masa depannya kelak. Selain menerapkan pola asuh yang ideal, mengenali dan mendukung tahapan tumbuh kembang si Kecil sangat diperlukan.

Memenuhi setiap kebutuhan tumbuh kembang si Kecil tidak harus mengeluarkan budget yang besar. Keperluan si Kecil yang hanya akan digunakan dalam waktu singkat bisa disiasati dengan sewa saja, Ma. Di Mamasewa telah tersedia berbagai perlengkapan sesuai kebutuhan tumbuh kembang si Kecil yang dapat disewa kapan saja tanpa harus keluar rumah. Yuk Ma, sewa berbagai kebutuhan si Kecil di sini!

mendidik anak

Mendidik Anak Disiplin Tidak Harus Keras! Ini Tipsnya, Bunda

Kekerasan sering dianggap sebagai cara untuk membuat anak disiplin. Kira-kira begitulah mindset yang terpasang pada orang tua kita pada zaman dahulu. Orang tua zaman dahulu cenderung mendidik anak dengan keras agar disiplin. Namun apakah benar jika kekerasan selalu berasosiasi dengan tingkat disiplin pada anak?

Ternyata, memukul anak atau melakukan kekerasan fisik terbukti tidak membuat anak disiplin, lho! Hal itu hanya menyebabkan efek kepatuhan yang sesaat. Namun yang terjadi sebenarnya adalah si kecil justru merasa takut bahkan berdampak pada IQ mereka. Tidak jarang bahkan trauma pun bisa terjadi pada si kecil hingga dewasa, meskipun memiliki bentuk yang berbeda.

mendidik anak

Kemarahan ternyata merupakan bentuk emosional orang tua, bukan cara mendidik anak disiplin

Ternyata, kemarahan itu bukan metode yang tepat, melainkan hanya emosi Ayah dan Bunda sesaat, lho! Ya, siapa yang tidak kesal menghadapi si kecil yang berulah apalagi menolak tunduk pada aturan yang ada di rumah. Hal ini menumpuk rasa frustasi dan dalam hati kita ingin agar masalah tersebut cepat selesai.

Akhirnya, tanpa disadari pikiran kita mengarahkan pada kekerasan sebagai bentuk ‘jalan pintas’ agar anak diam. Anda mungkin merasa tenang bahwa si kecil sudah diam dan tidak mengungkitnya lagi. Namun sejatinya, si kecil merekam kejadian tersebut sehingga tersimpan hingga dewasa.

Anda perlu tahu bahwa hukuman tidak menghilangkan sikap negatif, namun mengubahnya ke bentuk lain. Yang perlu Anda terapkan adalah proses memberikan apresiasi ketika tindakan yang benar dilakukan dan menjelaskan mengapa perilaku buruk itu tidak boleh dilakukan!

Kali ini, Mamasewa akan mengajak Anda mengenali pengasuhan positif. Eits, pengasuhan positif bukan berarti pengasuhan yang membolehkan anak untuk melakukan banyak hal tanpa konsekuensi, ya! Sebaliknya, mendidik anak secara positif berfokus untuk mendorong perilaku baik dan mengenali perilaku buruk sehingga dihindari.

Seperti apa ya caranya?

1. Kenali bahwa tingkah laku anak-anak sejatinya adalah untuk menarik perhatian orang tua

Tidak ada anak yang tidak mencari perhatian orang tuanya. Berbagai perilaku dan ulah yang dilakukan bertujuan agar Anda merespon sesuatu. Seringkali, ketika anak ‘tidak melakukan sesuatu’ maka Anda pun tidak merespon mereka. Padahal, si Kecil juga membutuhkan respon atau inisiatif aksi dari Anda seperti mengajaknya berbicara atau bermain. Bagaimana pun, mereka adalah manusia kecil yang bergantung pada Anda. Jika Anda tidak memberikan perhatian, kemana lagi mereka akan mendapatkannya?

2. Coba renungkan, apa yang Anda lakukan saat si kecil melakukan hal yang baik?

Masih berkaitan dengan poin di atas, coba amati seberapa banyak si kecil melakukan hal baik dan buruk? Pasti Anda lebih mengingat perilaku buruk karena mengundang emosi Anda untuk naik pitam! Namun sesungguhnya, ada banyak hal baik yang bisa Anda apresiasi, seperti ketika si kecil diam, bermain sendiri, bahkan mungkin buah hati Anda mulai membaca tanpa Anda sadari!

Nah, sudah saatnya Anda mulai menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bukan semata-mata karena niat jahat. Namun mungkin karena Anda masih kurang dalam mengapresiasi sikap baik buah hati Anda. Jangan malu untuk membahagiakannya!

mendidik anak

3. Tidak perlu menunggu Ayah untuk menghukum dan Bunda untuk menyayangi

Masyarakat Indonesia seringkali mengenal Ayah sebagai sosok yang ditakuti dan Bunda sebagai sosok yang penuh pengertian. Sehingga akhirnya jika anak melakukan suatu kesalahan, selalu ada ancaman ‘Nanti dilaporkan Ayah, lho!’ Apa yang selanjutnya terjadi? Si kecil akan merekam bahwa Ayah adalah sosok yang jahat dan akhirnya rusaklah hubungan antara ayah dan anak.

Padahal, pendisiplinan tidak harus dilakukan oleh satu pihak saja. Inti dari pengasuhan positif adalah ketika kedua pihak memberikan pendisiplinan yang sama dan fokus pada mendorong perilaku baik anak. Ayah pun bisa belajar caranya untuk menyayangi dan begitu pula Bunda juga harus tegas namun tidak menyakiti.

4. Kuncinya ada pada membangun hubungan yang positif dengan si kecil

Mendidik anak yang baik menitikberatkan komunikasi dan pembangunan hubungan baik dengan si kecil. Bagaimana buah hati Anda akan mendengarkan perintah jika Anda dianggap tidak memiliki hubungan baik? Oleh karena itu, Anda perlu berpartisipasi pada saat si kecil bermain, pahami dunianya, hobinya, termasuk mendengarkan apa yang mereka senangi.

Dengan demikian, si kecil akan menganggap Anda sebagai sahabat dan mampu mendengarkan nasehat Anda dengan seksama.

5. Jangan lupa untuk mencontohkan perilaku positif

Ini dia poin yang seringkali terlewat oleh beberapa orang tua! Jika Anda sudah menegaskan tidak boleh bermain gadget saat makan, mengapa Anda masih melakukannya? Tentu bukan salah mereka jika si kecil mencoba menirukan apa yang dilakukan orang tuanya. Begitu juga saat makan es krim atau mencoba makanan yang dilarang. Ingat, anak merekam apa yang orang tua lakukan, sehingga Andalah yang punya kendali atas apa yang tidak boleh dilakukan anak.

6. Buat kesepakatan dengan anak

Perlu diperhatikan bahwa kesepakatan di sini berarti kesepakatan yang mudah dipahami. Ini berarti si anak dengan sadar mengetahui dan menyepakati aturan yang sudah dibuat. Anda juga perlu dengan jelas menjelaskan kapan waktu bermain game dan berapa lama. Apa yang akan dilakukan jika si kecil tidak boleh bermain game? Anda juga perlu menjelaskan alternatifnya, misalkan membaca buku atau berolahraga bersama.

7. Ancaman dan suap bukan cara terbaik!

Seringkali mengancam menjadi andalan saat Anda sudah kehabisan ide bagaimana mendidik anak agar mereka disiplin. Contohnya seperti akan mengambil mobil-mobilan atau rumah boneka si kecil. Apakah hal ini ada hubungannya dengan masalah yang mereka timbulkan? Hindari menggunakan ancaman apalagi jika hukumannya tidak sesuai. Sebaiknya, Anda perlu mendorong mereka untuk melakukan yang terbaik. Gunakan ‘bermain rumah boneka’ sebagai hadiah, bukan sebagai ancaman.

Begitu juga dengan suap seperti ‘Nanti Bunda ajak makan ayam goreng.’ Justru anak akan memanfaatkan hal ini sebagai cara untuk mencoba makan ayam goreng. Lebih baik berikan hadiah yang sesuai juga, ya! Seperti membelikan buku baru jika buku lama sudah habis dibaca.

mendidik anak

8. Ingat, Ayah dan Bunda juga harus konsisten, ya!

Jangan sampai Ayah berkata A dan Bunda berkata B. Orang tua adalah partner, bukan bersaing satu sama lain. Si kecil akan belajar menyayangi kedua orang tuanya tanpa menghakimi satu pihak dan pilih-pilih. Yuk mulai rapatkan suara antara suami dan istri!

9. Apresiasi, apresiasi, apresiasi

Jika kita sudah memahami cara mendidik anak yang benar dengan tidak menghukum, Anda juga perlu belajar cara untuk mengapresiaisi. Penelitian menunjukkan bahwa apresiasi perilaku baik jauh lebih bermanfaat untuk mempertahankan perilaku baik dibanding menghukum perilaku salah. Anak bisa memahami bahwa perilaku ini merupakan perilaku yang diterima di masyarakat dan membawa kebaikan bagi sekitarnya.

10. Belajarlah untuk menjadi pendengar tanpa menghakimi

Satu kemampuan yang masih perlu dipraktekkan oleh kita sebagai orang tua. Mendengarkan memang tidak lengkap tanpa memberi komentar, apalagi jika kita tahu mungkin itu tidak baik bagi anak. Namun hasilnya adalah anak justru semakin takut dalam bercerita dan memilih melakukan semuanya sendiri. Jika Anda berani untuk mendengarkan tanpa menghakimi, mereka akan menghargai usaha Anda dan akan mengapresiasi aturan yang disiapkan oleh Anda.

parenting anak

5 Prinsip Parenting Anak Untuk Dukung Kesuksesan Di Masa Depan!

Menerapkan pola pengasuhan yang ideal pada anak perlu dipahami oleh para orang tua. Mendidik anak dengan cara yang benar sangat penting untuk membentuk karakter si Kecil, agar ia menjadi pribadi yang baik hingga dewasa kelak. Kesalahan orang tua dalam parenting anak dapat memengaruhi perilaku si Kecil di kemudian hari. Maka dari itu, untuk membentuk karakter positif pada anak, orang tua wajib memahami prinsip pola asuh yang ideal.

Setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh pola asuh orang tua saat mereka kecil. Mendidik anak dengan hal-hal yang positif akan membawanya menjadi sesorang yang juga positif perilaku dan mentalnya. Sebaliknya, jika anak dididik dengan keras maka ia juga akan menjadi pribadi yang keras. Akan menjadi apa si Kecil nantinya ditentukan pola asuh sejak usia dini. Maka dari itu penting bagi orang tua memahami prinsip-prinsip parenting anak. Yuk simak tipsnya berikut ini.

Parenting Anak yang Wajib Dilakukan Orang Tua

parenting anak

1. Rutin Meluangkan Waktu Untuk si Kecil

Perhatian dari orang tua merupakan kebutuhan bagi si Kecil agar ia dapat tumbuh dengan kasih sayang yang cukup. Memberikan perhatian secara rutin, berpengaruh pada psikologis si Kecil yang dapat membentuk tindakan-tindakan baik pada dirinya kelak.

Sebaliknya, jika si Kecil merasa kurang diperhatikan, bukan tidak mungkin ia akan melakukan tindakan-tindakan buruk untuk menarik perhatian orang tuanya. Tidak hanya Mama saja yang perlu meluangkan waktu dan memberikan perhatian untuk si Kecil, Papa pun perlu melakukan hal yang sama. Parenting anak dengan quality time ini, juga untuk membangun hubungan baik si Kecil dengan kedua orang tuanya.

Orang tua dapat menjadwalkan waktu berkualitas dengan si Kecil melalui cara-cara sederhana seperti menemani bermain, mengantar ke sekolah, menanyakan aktivitas yang ia lakukan di sekolah, atau sekadar makan bersama.

2. Tidak Terlalu Memanjakan si Kecil

Orang tua sering tidak tega jika anaknya dalam kesusahan atau kesulitan. Apalagi kalua si Kecil sampai merengek, hati orang tua mana yang tak iba. Sehingga, tak jarang orang tua selalu mengusahakan dan menuruti setiap kemauan si Kecil.

Menuruti kemauan si Kecil merupakan dukungan yang baik untuknya, tapi orang tua harus bijaksana dalam memenuhi permintaannya. Tidak semua permintaan si Kecil harus dipenuhi, karena hal ini akan membuatnya terlalu manja. Ada kalanya Mama dan Papa harus mendukung si Kecil untuk mendapatkan apa yang ia mau dengan usahanya sendiri. Jadi, nggak ada salahnya sesekali menolak atau tidak menuruti kemauan si Kecil, jika dampaknya kurang baik untuk anak di masa depan.

Misalnya, jika si Kecil meminta main game smartphone setiap hari, Mama tidak boleh menurutinya terus-menerus. Parents bisa melatihnya disiplin dengan membolehkan ia bermain game saat akhir pekan atau libur sekolah. Karena, jika si Kecil keasikan main game dan tidak terkontrol, hal ini dapat mempengaruhi aktivitas dan tanggung jawabnya seperti mengerjakan PR sekolah akan terbengkalai, hingga kecanduan game. Untuk itu parenting anak yang tepat benar-benar perlu diterapkan pada si Kecil.

3. Mengajarkan Kemandirian pada si Kecil

Mengajarkan kemandirian pada si Kecil perlu ditanamkan sejak dini agar ia terbiasa menjadi pribadi yang mandiri. Parenting anak ini dapat dilakukan orang tua untuk mengasah kemandirian. Misalnya, membiasakan si Kecil makan sendiri, merapikan mainannya, atau membersihkan tempat tidurnya sendiri. Dengan memberikan kepercayaan padanya, ia juga akan bertanggung jawab untuk menghadapi masalahnya sendiri.

Setelah si Kecil mulai berlatih mandiri, memberikan apresiasi atas apa yang dikerjakannya juga penting. Apresiasi atas usaha dan keberhasilannya dapat mendorong si Kecil tetap semangat dan konsisten meningkatkan kemandirian.

4. Membiasakan si Kecil Disiplin di Rumah

Menerapkan kedisiplinan di rumah dapat melatihnya memahami hal-hal yang benar dan tidak, baik dan buruk. Si Kecil juga akan lebih terbiasa mengontrol dirinya. Orang tua bisa menjelaskan kepadanya mengapa kedisiplinan penting, mengapa hal ini harus dilakuan, mengapa hal itu tidak boleh dilakukan.

Misalnya ketika tiba jam makan, ia harus menghentikan semua aktivitasnya dulu dan meluangkan waktu untuk makan pada jam tersebut. Makan adalah kebutuhan dasar yang harus dilakukan tepat waktu untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Dengan demikian ia akan mengerti dan tidak mengabaikan kesehatan dirinya.

Pola tersebut juga bisa diterapkan pada hal-hal lain yang memerlukan kedisiplinan seperti mematuhi jam tidur dan bangun, belajar, membatasi waktu bermain, dan sebagainya. Dengan demikian, si Kecil akan terbiasa disiplin yang memudahkannya dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

parenting anak

5. Menjadi Contoh yang Baik Untuk si Kecil

Katika masih berusia anak-anak sifat alami si Kecil cenderung melakukan imitasi atau meniru perilaku orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, orang tua wajib memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak-anaknya. Menajdi panutan untuk si Kecil merupakan parenting anak yang sangat penting, karena perilaku anak akan terbentuk dari contoh yang diberikan orang tua.

Misalnya, orang tua mengjarkan cara berkomunikasi yang baik padanya, ramah terhadap orang lain, berkata jujur, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan lain sebagainya.

Nah Ma, itu dia prinsip parenting anak yang bisa diterapkan agar tumbuh kembang si Kecil optimal. Pola asuh anak yang baik dapat membentuk keceriaan, kemandirian, kepedulian dan hal positif lainnya yang membantu si Kecil tumbuh menjadi pribadi baik.

Dalam menjalankan prinsip parenting anak, Mama bisa memberikan fasilitas yang memadai untuk si Kecil yang dapat menunjang pertumbuhannya. Misalnya, untuk menumbuhkan kecerian buah hati tercinta, tak ada salahnya Mama meberikan mainan-mainan yang menyenangkan dan positif. Tidak harus membeli mainan mahal Ma, karena Mama bisa menyewa berbagai mainan si Kecil di Mamasewa.com dengan mudah dan murah. Tempat sewa kebutuhan si Kecil Mamasewa.com menyediakan berbagai permainan seru seperti trampolin, perosotan, hingga kolam renang karet yang bisa bantu tumbuh kembang si Kecil. Selain itu, dapat menjadi bentuk perhatian orang tua pada anak. Yuk, Ma sewa mainan seru untuk si Kecil sekarang juga!