Kulit bayi dan anak-anak memang masih sensitif. Inilah yang membuat mereka lebih rentan terhadap berbagai gangguan kulit, mulai dari yang ringan hingga memerlukan penanganan medis. Beberapa kondisi bisa muncul sejak bayi, sementara lainnya bisa berkembang seiring dengan pertumbuhan. Bagi para orang tua, terutama ibu muda, penting untuk mengenali jenis-jenis penyakit kulit pada anak agar bisa memberikan penanganan tepat dan mencegah komplikasi. Simak informasi ini sampai tuntas ya, Mam!

15 Penyakit Kulit pada Anak yang Paling Banyak

Ada banyak sekali jenis penyakit kulit pada anak, tapi berikut ini adalah 15 kondisi yang paling umum dialami bayi dan anak-anak—lengkap dengan penyebab, gejala, serta cara mengatasi dan mencegahnya.

1. Eksim (Dermatitis Atopik)

Penyakit Kulit pada Anak

Eksim adalah kondisi kronis yang menyebabkan kulit kering, merah, dan gatal, sering kali muncul di wajah, leher, siku, atau lutut. Penyebabnya bisa berupa faktor genetik, alergi makanan, atau iritasi dari sabun/pakaian.

Untuk menanganinya, anak mungkin butuh pelembap khusus, menghindari pemicu alergi, dan bila perlu menggunakan krim kortikosteroid sesuai resep dokter.

Baca Juga: 7 Tips Merawat Kulit Bayi agar Tetap Sehat dan Tidak Kering

2. Biang Keringat (Miliaria)

Biang keringat terjadi akibat saluran keringat tersumbat. Biasanya karena suhu yang terlalu panas atau pakaian yang terlalu tebal. Gejalanya ditandai dengan munculnya ruam merah kecil, gatal, dan kadang disertai bintik-bintik berisi air.

Untuk mengatasinya, jaga agar anak tetap dalam ruangan sejuk, pakaikan pakaian longgar, dan mandi secara rutin. 

Baca Juga: Memang Menyenangkan, Namun Bahaya Bath Toys Harus Diwaspadai!

3. Biduran (Urtikaria )

Biduran merupakan reaksi alergi yang menyebabkan bentol merah, gatal, dan muncul tiba-tiba. Penyebabnya bisa karena makanan, cuaca dingin, obat-obatan, atau gigitan serangga.

Biduran ringan bisa diatasi dengan antihistamin dan kompres dingin. Sementara untuk upaya pencegahan, Mama perlu mengenali dan menghindari pemicu alergi pada anak sedini mungkin.

4. Impetigo

Impetigo adalah infeksi kulit menular yang disebabkan oleh bakteri dan ditandai dengan luka merah yang berubah menjadi kerak kuning. Penyakit ini menyebar dengan cepat, terutama di lingkungan anak-anak.

Biasanya dokter akan meresepkan salep antibiotik untuk mengatasi gejalanya. Selain itu, Mama juga perlu menjaga kebersihan area yang terinfeksi. Sementara, untuk mencegahnya, Mama bisa melatih anak untuk rajin mencuci tangan dan tidak berbagi handuk atau pakaian dengan anak lainnya.

5. Ruam Popok

Penyakit Kulit pada Anak

Ruam popok adalah iritasi kulit yang muncul di area tertutup popok, akibat kelembapan, gesekan, atau reaksi terhadap urine dan feses. Gejalanya berupa kemerahan dan kulit lecet.

Untuk mengatasinya, Mama perlu mengganti popok si kecil secara rutin, keringkan tubuh si kecil sebelum memakaikan popok baru, dan gunakan krim pelindung berbahan zinc oxide. Kondisi ini juga bisa dicegah dengan memilih popok yang memiliki daya serap baik dan sesuai dengan ukuran anak.

Baca Juga: Waspada Ancaman yang Tak Terlihat, Ini 7 Bahaya Polusi Udara bagi Anak!

6. Kurap (Tinea)

Kurap merupakan infeksi jamur yang menyebabkan bercak merah berbentuk bulat dan bersisik di kulit. Umumnya muncul di kulit kepala, kaki, atau tubuh. Penyebabnya adalah jamur yang tumbuh di lingkungan lembap.

Obat antijamur topikal atau oral bisa digunakan untuk mengobati kurap. Untuk mencegahnya, jaga kebersihan tubuh dan pakaian anak serta hindari penggunaan barang pribadi secara bersama-sama.

7. Molluscum Contagiosum

Molluscum adalah infeksi virus yang menyebabkan benjolan kecil, halus, dan mengilap pada kulit. Biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi bisa menyebar jika digaruk.

Kondisi ini tidak selalu memerlukan pengobatan karena bisa sembuh sendiri. Namun, dokter mungkin menyarankan perawatan untuk mempercepat penyembuhan. Pencegahan utamanya adalah menjaga kebersihan kulit dan tidak menggaruk lesi.

Baca Juga: Cara Merawat Tali Pusar Bayi Baru Lahir yang Benar, Jangan Sampai Infeksi!

8. Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak muncul akibat reaksi alergi atau iritasi terhadap bahan tertentu seperti sabun, lotion, atau logam. Gejalanya berupa kulit merah, gatal, bahkan melepuh.

Cara mengatasinya adalah dengan menghindari bahan pemicu dan menggunakan krim antiinflamasi sesuai anjuran dokter. Sebaiknya gunakan produk perawatan kulit yang hypoallergenic untuk mencegahnya.

9. Cacar Air (Varicella)

Cacar air disebabkan oleh virus Varicella zoster dan ditandai dengan ruam berisi cairan yang menyebar ke seluruh tubuh dan biasanya disertai dengan demam. Penyakit ini sangat menular, tetapi gejalanya relatif ringan.

Cara penanganannya adalah dengan menjaga kebersihan kulit, memberikan antihistamin untuk mengurangi gatal, dan memastikan anak cukup istirahat. Sampai saat ini, vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah cacar air sebab ini adalah infeksi virus.

Baca Juga: Tips Menjemur Bayi Baru Lahir, Awas Jangan Salah!

10. Gudik (Skabies)

Skabies disebabkan oleh tungau kecil yang masuk ke dalam lapisan kulit dan menyebabkan gatal intens, terutama di malam hari. Ruam biasanya muncul di sela-sela jari, pergelangan tangan, dan area tersembunyi lain.

Pengobatannya menggunakan krim khusus yang membunuh tungau. Hindari penularan dengan tidak berbagi tempat tidur, handuk, atau pakaian dengan orang yang terinfeksi.

11. Cradle Cap (Dermatitis Seboroik pada Bayi)

Kondisi ini paling banyak dialami oleh bayi yang ditandai dengan munculnya kerak tebal, berwarna kuning, dan berminyak di kulit kepala. Meski begitu, cradle cap biasanya tidak menimbulkan rasa gatal atau nyeri.

Untuk mengatasinya, Mama perlu melakukan perawatan rutin dengan mencuci kepala bayi secara teratur menggunakan sampo lembut dan menyikat perlahan keraknya.

Baca Juga: Tips Memandikan Bayi Baru Lahir, Bonus Rekomendasi Bak Mandi Terbaik!

12. Roseola (Eksantema Subitum)

Gejala roseola sering kali mirip dengan cacar air. Kondisi ini pun juga disebabkan infeksi virus. Namun, gejalanya sering kali muncul setelah anak mengalami tinggi mendadak selama 3–5 hari, lalu diikuti ruam merah muda di tubuh saat demam turun.

Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan sembuh sendiri. Untuk mengatasinya, pastikan anak tetap terhidrasi dan istirahat yang cukup.

13. Kulit Kering (Xerosis)

Kondisi ini juga banyak sekali dialami bayi maupun anak-anak. Umumnya disebabkan oleh cuaca dingin atau terlalu sering mandi dengan bahan yang keras sehingga membuat kulit si kecil tampak kasar, mengelupas, atau bersisik.

Untuk mencegahnya, Mama bisa memandikan si kecil dengan air hangat suam-suam kuku dan menggunakan pelembap setelah mandi.

14. Pityriasis Alba

Penyakit kulit yang satu ini disebabkan oleh infeksi jamur yang menyebabkan bercak putih, kering, dan sedikit bersisik—biasanya di wajah atau bisa juga di bagian tubuh lainnya seperti perut.

Kondisi ini tidak berbahaya dan bisa hilang sendiri. Namun, kalau gejalanya tidak kunjung hilang, Mama sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pelembap atau krim yang bisa membantu memperbaiki penampilan kulit.

Baca Juga: Tips Memilih Playmat yang Aman untuk Si Kecil, Bukan Cuma Gambarnya!

15. Campak (Measles)

Campak adalah penyakit menular akibat virus yang dimulai dengan demam, batuk, pilek, dan mata merah, lalu muncul ruam merah di seluruh tubuh.

Cara terbaik untuk mencegahnya adalah dengan vaksinasi MMR. Namun, kalau terlanjur terinfeksi, anak perlu banyak istirahat, minum yang cukup, dan mungkin butuh perawatan medis kalau gejalanya berat.

Baca Juga: 5 Etika Menyentuh Bayi, Jangan Sampai Membuatnya Menderita Penyakit Ini!

Menjaga kesehatan kulit anak adalah bagian dari menjaga kenyamanan dan kualitas hidup mereka sehari-hari. Dengan mengetahui jenis penyakit kulit yang umum terjadi, Mama bisa lebih sigap dalam memberikan penanganan yang tepat dan mencegah penyebaran.

Untuk mendukung kebersihan dan kenyamanan anak, Mamasewa menyediakan beragam pilihan bak mandi bayi yang ergonomis dan aman. Yuk, cek koleksi selengkapnya di sini!

Tinggalkan Balasan