Pernah merasa melakukan semuanya dengan terburu-buru? Menyapu cepat-cepat, membereskan rumah sambil setengah berlari, atau merasa gelisah kalau sesuatu berjalan sedikit lebih lambat dari rencana—walau sebenarnya tidak ada kondisi darurat yang mengharuskan semuanya dilakukan secepat itu. Yuk, kita kenalan dengan apa itu hurry sickness, penyebab, hingga cara mengatasinya supaya Mama bisa lebih selow!
Apa Itu Hurry Sickness?

Istilah hurry sickness pertama kali diperkenalkan oleh dua ahli jantung, Meyer Friedman dan Ray Rosenman. Mereka menggambarkan hurry sickness sebagai pola perilaku ketika seseorang terus-menerus merasa terburu-buru, tidak sabar menunggu, dan selalu ingin menyelesaikan sesuatu dengan cepat.
Dalam berbagai literatur psikologi dan kesehatan, hurry sickness sering dikaitkan dengan pola kepribadian yang cenderung perfeksionis dan sangat berorientasi pada produktivitas. Orang yang mengalami kondisi ini biasanya merasa tidak nyaman ketika harus menunggu, mudah gelisah, dan sering merasa waktu selalu kurang.
Pada orang tua—terutama ibu—hurry sickness bisa muncul karena banyaknya tanggung jawab yang harus ditangani setiap hari. Mulai dari mengurus anak, pekerjaan rumah, pekerjaan kantor, hingga berbagai kebutuhan keluarga. Ketika semua terasa menumpuk, otak secara otomatis masuk ke mode “serba cepat”.
Beberapa penyebab yang sering memicu hurry sickness antara lain:
- Terlalu banyak tugas dalam satu waktu.
- Tekanan untuk selalu produktif.
- Kebiasaan multitasking berlebihan.
- Perfeksionisme dalam mengurus rumah dan anak.
- Kurangnya waktu istirahat atau jeda untuk diri sendiri.
Masalahnya, jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini bisa membuat seseorang lebih mudah lelah, stres, bahkan kehilangan kemampuan menikmati momen kecil bersama keluarga.
Baca Juga: Rushed Parents Syndrome: Saat Orang Tua Selalu Terburu-buru dan Dampaknya bagi Anak
Cara Menghadapi Hurry Sickness
Jika Mama merasa sering melakukan banyak hal dengan terburu-buru tanpa alasan yang jelas, tidak perlu merasa bersalah. Kebiasaan ini sangat umum terjadi, terutama pada orang tua yang menjalani banyak peran sekaligus. Kabar baiknya, Mama bisa melatih diri untuk mengendailkan diri dengan menerapkan beberapa tips berikut ini.
1. Sadari Pola “Serba Cepat” dalam Aktivitas Harian

Langkah pertama adalah menyadari kapan Mama mulai terburu-buru. Misalnya ketika membereskan rumah, menyiapkan anak berangkat sekolah, atau bahkan saat bermain dengan anak.
Coba tanyakan pada diri sendiri apakah benar semuanya harus dilakukan secepat ini? Sering kali kita menyadari bahwa ritme yang terlalu cepat sebenarnya tidak diperlukan.
Baca Juga: Multitasking Bukan Superpower: 7 Tips Mengatur Waktu antara Pekerjaan dan Keluarga untuk Ibu WFH
2. Kurangi Kebiasaan Multitasking
Banyak orang tua merasa harus melakukan beberapa hal sekaligus agar semuanya cepat selesai. Namun kenyataannya, multitasking justru sering membuat pikiran lebih lelah.
Cobalah fokus pada satu aktivitas dalam satu waktu. Misalnya menyelesaikan pekerjaan dapur terlebih dahulu sebelum beralih ke tugas lain. Cara ini membantu pikiran lebih tenang dan pekerjaan pun terasa lebih terkontrol.
3. Sisakan Waktu Tanpa Agenda

Tidak semua waktu harus diisi dengan aktivitas. Memberi ruang kosong dalam jadwal harian justru penting untuk menjaga kesehatan mental.
Misalnya menyisakan 10–15 menit untuk duduk santai, minum teh, atau sekadar bermain bersama anak tanpa tujuan tertentu. Momen kecil seperti ini membantu otak keluar dari mode “terburu-buru”.
Baca Juga: Tips Atur Waktu untuk Working Mom: Karier dan Keluarga Lebih Seimbang
4. Turunkan Standar yang Terlalu Perfeksionis
Banyak ibu merasa rumah harus selalu rapi, makanan harus selalu masak sendiri, dan semua kebutuhan keluarga harus langsung terpenuhi.
Padahal kenyataannya, tidak semua hal harus dilakukan dengan sempurna setiap saat. Rumah sedikit berantakan atau pekerjaan yang tertunda bukanlah masalah besar. Mengurangi tekanan perfeksionisme bisa membantu mengurangi dorongan untuk selalu terburu-buru.
5. Gunakan Bantuan agar Beban Tidak Terlalu Berat

Salah satu penyebab hurry sickness adalah terlalu banyak hal yang harus dilakukan sendiri. Ketika beban terasa lebih ringan, ritme hidup juga biasanya menjadi lebih santai.
Mama bisa mulai dengan memanfaatkan bantuan yang tersedia, baik dari pasangan, anggota keluarga, maupun alat yang mempermudah aktivitas sehari-hari. Dengan begitu, Mama tidak perlu merasa semuanya harus diselesaikan secepat mungkin sendirian.
Baca Juga: Pembagian Peran dalam Pengasuhan Anak, Harus 50:50?
Menjadi orang tua memang sering membuat kita terbiasa bergerak cepat. Namun penting untuk diingat bahwa tidak semua momen harus dijalani dengan terburu-buru.
Ingat kembali bahwa anak tumbuh dalam ritme yang berbeda dengan orang dewasa dan sering kali mereka justru mengajarkan kita untuk melambat dan menikmati tiap momen sederhana yang berharga.
Jika Mama ingin membuat rutinitas sehari-hari terasa lebih ringan, tidak ada salahnya memanfaatkan solusi yang lebih praktis. Di Mamasewa, Mama bisa menemukan berbagai perlengkapan bayi, ibu, hingga kebutuhan rumah tangga yang bisa disewa sesuai kebutuhan. Yuk, cek apa yang bisa Mama temukan di www.mamasewa.com!































































