Di tahun 2025, gaya parenting baru terus bermunculan. Mengikuti tren pola asuh terbaru bisa terasa melelahkan. Namun, besar kemungkinan Mama sudah pernah mendengar istilah gentle parenting, gaya pengasuhan yang beberapa tahun terakhir masih ramai diperbincangkan. Belum usai dengan yang satu ini, kini hadir pula soft parenting yang sering disebut sebagai “turunan” dari gentle parenting.
Di artikel ini, Mamasewa akan membahas apa itu soft parenting dan menjelaskan perbedaan penting yang membuatnya tak sepenuhnya sama dengan gentle parenting. Simak, yuk!
Apa Itu Soft Parenting?

Soft parenting pada dasarnya adalah gaya pengasuhan yang serupa dengan gentle parenting, tapi meletakkan fokus yang lebih besar pada empati dan pemahaman terhadap perasaan anak.
Tujuannya memang sama, yaitu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan tanpa kekerasan. Namun, ada perbedaan mendasar antara keduanya.
Soft parenting sering disalahartikan sebagai gaya pengasuhan yang tidak memberikan batasan sehingga menyebabkan orang tua menjadi terlalu permisif, lebih memilih menghindari konflik, dan tidak menegakkan konsekuensi yang konsisten.
Berikut beberapa contoh gaya soft parenting:
- Menanyakan keinginan anak tentang apa yang ingin mereka lakukan, daripada memberi instruksi tentang apa yang seharusnya dilakukan.
- Jarang mengatakan “tidak” dan lebih sering mengalah atau memenuhi permintaan anak untuk menghindari argumen atau ledakan emosi.
- Berempati dalam segala situasi, bahkan ketika perilaku anak melewati batas.
- Mengutamakan perasaan anak daripada memegang batasan atau struktur yang jelas.
- Melepas struktur dan mengikuti arah anak dalam kegiatan mereka.
Contoh lebih jelasnya adalah membiarkan anak tantrum karena tidak ingin tidur. Orang tua yang menerapkan soft parenting mungkin menyerah dan membiarkan anak begadang setiap malam, meskipun itu dapat memengaruhi kebiasaan tidur yang baik.
Baca Juga: Gentle vs Permissive Parenting: 5 Perbedaan Paling Mendasar
Kelebihan dan Kekurangan Soft Parenting

Meskipun setelah membaca definisinya Mama berpikir bahwa pola asuh ini bukanlah gaya parenting yang ideal, tetap saja ada kelebihan yang bisa dijadikan pelajaran. Meski tetap ada beberapa hal yang perlu diwaspadai. Berikut kelebihan dan kekurangannya.
Kelebihan Soft Parenting
Berikut ini adalah beberapa karakter baik dari orang tua yang menerapkan soft parenting:
- Bersikap tenang, penuh kasih, dan sangat memahami kebutuhan emosional anak sehingga mereka lebih peka terhadap perasaan anak.
- Berusaha menciptakan lingkungan yang damai dan suportif.
- Berusaha menjadi contoh yang ideal dalam mengelola emosi, terutama saat menghadapi momen yang penuh tantangan.
- Bertujuan membuat anak merasa didukung secara emosional dan bisa berkembang dengan rasa aman dan nyaman.
Baca Juga: Attachment Parenting: Kedekatan dengan Anak Memang Penting Asal…
Kekurangan Soft Parenting
Namun, meski niatnya baik, soft parenting juga memiliki beberapa konsekuensi yang perlu diperhatikan, seperti:
- Berisiko menumbuhkan lingkungan yang tidak terstruktur karena orang tua terlalu permisif dan cenderung menghindari konflik.
- Berpotensi membuat anak sulit memahami aturan dan batasan yang jelas antara orang tua dan anak.
- Bisa membuat anak merasa bingung dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan harapan yang ada.
- Bisa menyebabkan anak kesulitan mempelajari keterampilan hidup dan menghadapi kenyataan dunia luar yang penuh dengan aturan dan batasan.
Baca Juga: Pengaruh Gaya Parenting terhadap Kepribadian Anak: Pentingnya Pola Asuh yang Tepat
Perbedaan Gentle vs. Soft Parenting

Supaya Mama lebih mudah memahami perbedaan keduanya, berikut adalah beberapa hal yang bisa Mama pelajari.
| Soft Parenting | Gentle Parenting | |
| Tujuan Pembelajaran | Meningkatkan kecerdasan emosional anak melalui pemahaman dan validasi perasaan mereka. | Mengajarkan perilaku yang tepat dan pengelolaan diri dengan aturan yang jelas dan pedoman positif. |
| Penerapan Batasan | Cenderung menghindari penetapan batasan yang tegas. | Menyeimbangkan empati dengan aturan yang jelas dan konsisten. |
| Pendekatan Emosional | Fokus besar pada empati dan validasi perasaan anak—sering kali dengan cara menghindari teguran atau pembatasan. | Empati dan penghormatan juga penting, tetapi dibarengi dengan pengaturan batasan yang jelas. |
| Bentuk Afirmasi | Mengakomodasi keinginan anak tanpa terlalu menegakkan konsekuensi | Menggunakan penguatan positif dan petunjuk untuk membimbing anak agar berperilaku sesuai ekspektasi. |
Baca Juga: Dampak Overparenting, Bahayanya Kasih Sayang yang Berlebihan
Tips Menerapkan Soft Parenting dengan Seimbang

Meskipun tujuan soft parenting juga baik, gaya pengasuhan ini tetap perlu disesuaikan agar tetap seimbang dan tetap efektif. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Mama terapkan.
- Validasi Perasaan Anak. Dengarkan dengan sungguh-sungguh saat anak mengungkapkan emosinya dan tunjukkan bahwa perasaannya diterima dan dimengerti, meski begitu Mama tetap perlu memberi arahan yang sesuai.
- Fokus pada Momen Belajar, Bukan Hukuman. Saat anak melakukan kesalahan, gunakan kesempatan itu sebagai momen belajar dan berdiskusi tentang akibat perbuatannya serta cara memperbaikinya.
- Seimbangkan Empati dengan Rutinitas Harian. Tetap jaga struktur harian yang konsisten, seperti jam makan dan tidur, untuk membantu anak merasa aman dan tahu apa yang diharapkan.
- Beri Ruang untuk Gagal. Izinkan anak melakukan kesalahan dalam lingkup yang aman, tapi tetap beri konsekuensi yang sesuai tanpa membuatnya merasa dipermalukan.
- Jadi Contoh dalam Pengelolaan Emosi. Tunjukkan cara merespons situasi sulit dengan tenang dan kepala dingin. Anak belajar banyak dari cara orang tua mengelola emosinya.
Baca Juga: Free Range Parenting, Apakah Aman untuk Anak?
Soft parenting bisa jadi pendekatan yang hangat dan penuh empati—asal tetap dibarengi dengan batasan yang jelas dan konsisten. Ingat, anak tetap butuh arahan dan struktur untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional dan sosial.
Mau belajar bahasan topik parenting lainnya? Kunjungi blog Mamasewa untuk mendapatkan insight menarik seputar pola asuh anak, keluarga, hingga rekomendasi perlengkapan anak terbaik!































































