Pernah nggak, lihat kamar anak yang super aesthetic di Instagram? Dindingnya warna krem, mainannya dari kayu, bajunya serba earth tone. Sekilas memang menenangkan dan jauh dari kesan “rame”. Tapi belakangan ini, gaya pengasuhan seperti itu mulai disebut sebagai sad beige parenting—alias gaya parenting yang lebih fokus pada estetika dibanding kebutuhan emosional dan perkembangan anak.

Fenomena ini bikin banyak orang tua bertanya-tanya: apakah penting membuat semuanya terlihat cantik atau justru anak butuh ruang yang penuh warna dan ekspresi diri? Nah, kalau Mama penasaran apa itu sad beige parenting, kenapa tren ini bisa viral, dan dampaknya untuk anak, yuk lanjut baca artikel ini sampai selesai!

Apa Itu Sad Beige Parenting?

Sad Beige Parenting

Istilah sad beige parenting, disebut juga dengan aesthetic parenting, merujuk pada gaya pengasuhan yang menekankan estetika minimalis dengan palet warna netral seperti krem, cokelat muda, dan abu-abu pucat. Gaya ini mencakup pemilihan mainan kayu, pakaian linen berwarna earth tone, dan dekorasi kamar anak yang serba estetik. Tren ini menjadi populer di media sosial karena memberikan kesan tenang dan rapi.​

Fenomena ini pertama kali mendapat perhatian luas melalui konten satir dari TikToker Hayley DeRoche, yang mengomentari tren anak-anak berpakaian dan bermain dalam nuansa warna netral. Konten ini kemudian viral dan memicu diskusi tentang dampak estetika semacam itu terhadap perkembangan anak.

Beberapa orang tua mengadopsi gaya ini sebagai bentuk self-care—menciptakan lingkungan yang menenangkan di tengah kesibukan mengasuh anak. Namun, para ahli mengingatkan bahwa meskipun estetika pribadi dan pilihan warna netral ini tidak berbahaya, penting untuk memastikan anak tetap mendapatkan stimulasi visual yang beragam untuk mendukung perkembangan sensorik dan kognitifnya.

Baca Juga: 5 Tahapan Perkembangan Otak Anak Usia Dini dan Cara Menstimulasinya

Pro dan Kontra Sad Beige Parenting

Sad Beige Parenting

Gaya pengasuhan sad beige memicu perdebatan di kalangan orang tua dan ahli perkembangan anak. Di satu sisi, estetika minimalis ini dianggap menciptakan lingkungan yang tenang dan bebas dari overstimulasi. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa pendekatan ini mungkin membatasi stimulasi visual yang penting bagi perkembangan anak.​

Dalam laman ​Cleveland Clinic, Dr. Lisa Diard, MD, menyatakan bahwa upaya untuk menciptakan suasana rumah yang tenang dan teratur serta memiliki estetika pribadi tidaklah berbahaya. Justru bisa menjadi bentuk self-care bagi orang tua—terutama di tahun-tahun awal mengasuh anak.

Namun, ada kritik yang berpendapat bahwa lingkungan yang terlalu seragam dan minim warna dapat membatasi stimulasi visual yang diperlukan untuk perkembangan sensorik anak.

Menanggapi ini, Dr. Diard kembali menjelaskan bahwa anak-anak sebenarnya tetap akan terpapar berbagai warna dan tekstur. Misalnya saat sedang berjalan-jalan ke luar rumah atau ketika bermain dengan kerabat.

Oleh karena itu, lingkungan rumah berwarna netral tidak akan secara signifikan menghambat perkembangan anak maupun merugikan perkembangan visual atau kreativitas anak.

Menurutnya, “Anak-anak tidak akan peduli apakah kamar mereka berwarna krem atau tidak, terutama di tahun-tahun awal kehidupan mereka.” Yang terpenting adalah memastikan anak mendapatkan berbagai pengalaman dan stimulasi yang mendukung pertumbuhan mereka.

Baca Juga: 7 Produk Fisher-Price Terfavorit: Mainan Edukatif yang Bikin Anak Betah Bermain dan Belajar

​Tips Menstimulasi Visual Anak

Punya rumah dengan warna-warna netral tidak menjadikan anak kurang terstimulasi secara visual. Pasalnya, stimulasi visual bisa diberikan melalui banyak cara tanpa mengganggu estetika rumah Mama. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba.

1. Sediakan Buku Bergambar Cerah

Buku adalah jendela dunia sekaligus sarana stimulasi visual yang menyenangkan. Mama bisa memilih buku anak dengan ilustrasi warna-warni dan kontras tinggi. Selain menstimulasi mata anak, buku bergambar juga bisa jadi momen bonding seru bersama Mama dan Papa.

2. Ajak Anak Bermain di Luar Rumah

Alam adalah sumber warna paling alami dan kaya. Jadi, ajaklah si kecil bermain di taman, berjalan di sekitar kompleks, atau sekadar duduk di bawah pohon sambil mengamati langit. Aktivitas sederhana ini memperkenalkan anak pada berbagai warna, tekstur, dan bentuk yang sulit ditiru di dalam ruangan.

Baca Juga: 7 Pilihan Mainan Sensorik untuk Bayi dan Balita, Semua Ada di Mamasewa!

3. Gunakan Mainan Edukatif Berwarna-warni

Mainan warna pastel memang cantik difoto, tapi sesekali biarkan anak bermain dengan mainan berwarna cerah dan mencolok. Mainan seperti ini membantu merangsang fokus, pengenalan warna, dan koordinasi mata-tangan anak.

4. Libatkan Anak dalam Aktivitas Seni

Siapkan alat gambar, kertas warna, atau bahkan benda daur ulang untuk dijadikan karya seni. Aktivitas seperti mewarnai dan menempel kolase bisa menstimulasi visual sekaligus melatih kreativitas dan motorik halus anak.

5. Beri Ruang Anak untuk Mengekspresikan Diri

Meski rumah bergaya minimalis, Mama tetap bisa memberikan satu sudut kecil tempat anak bebas mengekspresikan warna favoritnya—entah lewat pajangan, stiker, atau bahkan lukisan hasil karyanya sendiri. Ini memberi anak rasa memiliki dan kebebasan berkreasi.

Baca Juga: Mengetahui Penyebab dan Cara Mengatasi Overstimulasi pada Bayi

Tren sad beige parenting mungkin terlihat estetis dan tenang, tapi penting juga untuk memastikan kebutuhan stimulasi anak tetap terpenuhi ya, Mam!

Nggak perlu langsung mengubah seluruh isi rumah, cukup beri ruang dan kesempatan anak untuk mengeksplor warna dan bentuk dengan caranya sendiri. Kalau Mama butuh solusi praktis dan tetap stylish, sewa mainan di Mamasewa bisa jadi jawabannya.

Di Mamasewa, ada banyak pilihan mainan edukatif dengan warna dan bentuk beragam dari berbagai merek terpercaya. Tinggal pilih mana yang paling cocok untuk si kecil. Yuk, cek koleksi selengkapnya di sini!

Tinggalkan Balasan