Posisi anak tengah sering kali unik. Kakaknya pernah menjadi anak satu-satunya dan adiknya mendapat perhatian lebih karena masih kecil. Sementara, anak tengah sering kali tidak mendapat “sorotan” yang sama sehingga muncullah istilah Middle Child Syndrome. Namun, apakah semua anak tengah mengalaminya? Dan bagaimana dampaknya terhadap perkembangan mereka? Yuk, cari tahu lebih lanjut!

Apa Itu Middle Child Syndrome?

Middle Child Syndrome adalah istilah yang menggambarkan perasaan anak tengah yang sering merasa terabaikan atau kurang diperhatikan dibandingkan dengan kakak dan adiknya.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Alfred Adler, seorang psikolog Austria yang juga mengembangkan teori urutan kelahiran. Menurut Adler, anak tengah cenderung merasa harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan perhatian orang tua karena posisi mereka di antara saudara yang lebih tua dan lebih muda.

Fenomena ini terjadi karena anak pertama sering mendapat perhatian khusus sebagai anak sulung, sementara anak bungsu cenderung dimanjakan karena masih kecil. Akibatnya, anak tengah bisa merasa tidak memiliki peran yang jelas dalam keluarga.

Meskipun tidak semua anak tengah mengalaminya, beberapa faktor seperti pola asuh, jumlah saudara, dan dinamika keluarga dapat memengaruhi perasaan mereka.

Adapun ciri-ciri anak yang mengalami Middle Child Syndrome, yaitu:

  1. Merasa kurang diperhatikan dan diperhitungkan oleh orang tuanya.
  2. Lebih cepat mandiri dan tidak tergantung dengan orang tua dibanding saudara-saudaranya.
  3. Sering merasa dibandingkan dengan kakak atau adiknya.
  4. Berusaha mencari perhatian dengan cara unik dan sering kali lebih dekat dengan teman-temannya ketimbang keluarganya sendiri.
  5. Sering menjadi mediator atau pendamai dalam keluarga.

Meskipun Middle Child Syndrome bisa membuat anak merasa tersisih, bukan berarti anak tengah selalu mengalami dampak negatif. Dengan pola asuh yang tepat, mereka justru bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan memiliki empati tinggi.

Baca Juga: Fakta Anak Sulung, Ternyata Beda Antara Laki-laki dan Perempuan!

Dampak Middle Child Syndrome

Middle Child Syndrome bisa membawa dampak positif maupun negatif tergantung pada pola asuh, lingkungan, serta bagaimana anak tengah menyesuaikan diri dalam keluarganya. Berikut adalah beberapa dampaknya.

Dampak Positif

Middle Child Syndrome
  1. Mandiri dan Tidak Bergantung pada Orang Lain. Anak tengah terbiasa mengatasi berbagai hal sendiri. Hal ini membuat mereka lebih mandiri, mampu mengambil keputusan sendiri, dan tidak mudah bergantung pada orang tua atau orang lain.
  2. Kemampuan Beradaptasi yang Baik. Karena berada di antara kakak dan adik, anak tengah terbiasa menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Mereka lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan dan lingkungan sosial yang berbeda.
  3. Diplomatis dan Pandai Bernegosiasi. Anak tengah sering menjadi penengah dalam konflik saudara sehingga mereka mengembangkan kemampuan negosiasi yang baik. Ini bisa menjadi keahlian berharga dalam kehidupan sosial maupun profesional di masa depan.
  4. Memiliki Hubungan Sosial yang Luas. Karena merasa kurang mendapat perhatian di rumah, anak tengah sering mencari dukungan dari teman sebaya. Akibatnya, mereka cenderung lebih aktif secara sosial dan memiliki banyak teman.
  5. Kreatif dan Berpikir Out of the Box. Untuk mendapatkan perhatian, anak tengah sering mencoba menonjol dengan caranya sendiri. Mereka bisa menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam mengekspresikan diri, baik dalam bidang seni, akademik, maupun keterampilan lainnya.

Baca Juga: 10 Tips agar Kakak Adik Akur, Orangtua Dilarang Ikut Ngegas

Dampak Negatif

  1. Merasa Kurang Dihargai atau Tidak Diperhitungkan. Anak tengah bisa merasa kurang spesial karena tidak memiliki “posisi istimewa” seperti anak pertama atau anak bungsu. Perasaan ini bisa berkembang menjadi rendahnya rasa percaya diri jika tidak diatasi dengan baik.
  2. Mudah Merasa Cemburu atau Iri dengan Saudara. Karena merasa kurang mendapat perhatian, anak tengah bisa menjadi lebih sensitif terhadap perlakuan orang tua terhadap kakak atau adiknya. Jika dibiarkan, ini bisa menimbulkan sibling rivalry dan konflik antar saudara.
  3. Cenderung Menutup Diri dan Sulit Mengekspresikan Perasaan. Anak tengah mungkin merasa bahwa pendapat atau perasaan mereka tidak terlalu diperhatikan sehingga mereka lebih memilih untuk menyimpannya sendiri. Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan kesulitan dalam mengungkapkan emosi atau membangun hubungan yang terbuka.
  4. Merasa Harus Bersaing untuk Mendapatkan Perhatian. Untuk menarik perhatian orang tua, anak tengah bisa menjadi lebih kompetitif atau bahkan bertindak dengan cara yang ekstrem. Jika tidak diarahkan dengan baik, ini bisa membuat mereka merasa terbebani untuk selalu membuktikan diri.
  5. Sulit Menemukan Identitas Diri. Anak tengah sering merasa tidak memiliki peran yang jelas dalam keluarga. Jika tidak mendapatkan dukungan yang cukup, mereka bisa mengalami kebingungan dalam menemukan jati diri dan menentukan apa yang benar-benar mereka inginkan dalam hidup.

Baca Juga: Big Sibling Blues, Ketika Kakak Cemburu dengan Adiknya

Cara Mengatasi dan Mencegah Middle Child Syndrome

Middle Child Syndrome bisa dicegah atau diminimalkan dengan pola asuh yang tepat. Berikut lima cara yang bisa dilakukan orang tua untuk memastikan anak tengah tetap merasa dihargai dan diperhatikan.

1. Berikan Perhatian yang Seimbang

Middle Child Syndrome

Anak tengah sering merasa diabaikan karena perhatian lebih banyak tertuju pada anak sulung atau bungsu. Maka dari itu, orang tua perlu memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup. Caranya dengan meluangkan waktu khusus untuk mengajaknya melakukan aktivitas favorit atau sekadar mengobrol secara pribadi.

2. Hargai dan Akui Keunikannya

Setiap anak memiliki kepribadian dan kelebihan masing-masing. Pastikan anak tengah merasa dihargai dengan mengakui bakat, minat, dan pencapaiannya, bukan hanya membandingkannya dengan kakak atau adiknya. Beri pujian saat ia melakukan sesuatu dengan baik dan dorong kepercayaan dirinya.

Baca Juga: 10 Bahaya Membandingkan Anak, Sama Sekali Tidak Memotivasi!

3. Berikan Peran yang Jelas dalam Keluarga

Anak tengah sering merasa tidak memiliki posisi yang spesifik dalam keluarga. Orang tua bisa memberinya peran yang membuatnya merasa penting, seperti menjadi ‘partner’ dalam kegiatan keluarga atau membantu mengajarkan sesuatu kepada adik. Hal ini bisa membuatnya merasa dihargai dan memiliki tempat dalam keluarga.

4. Ciptakan Hubungan yang Harmonis Antar Saudara

Middle Child Syndrome

Persaingan antar saudara sering kali menjadi pemicu Middle Child Syndrome. Orang tua perlu memastikan bahwa hubungan antar anak tetap harmonis dengan mengajarkan mereka untuk saling menghargai dan bekerja sama. Hindari membanding-bandingkan anak dan ajak mereka untuk melakukan kegiatan bersama agar lebih kompak.

Baca Juga: 9 Penyebab Anak Manja: Niat Baik yang Jadi Bumerang

5. Pastikan Anak Merasa Didengar

Karena sering merasa kurang diperhatikan, anak tengah bisa jadi lebih tertutup. Orang tua harus aktif mendengarkan pendapat, perasaan, dan cerita anak tengah. Berikan ruang baginya untuk berbicara dan pastikan mereka merasa bahwa suaranya juga penting dalam keluarga.

Middle Child Syndrome bukan sesuatu yang pasti dialami setiap anak tengah, tetapi bisa muncul jika perhatian dalam keluarga tidak seimbang. Namun, dengan memberikan kasih sayang yang cukup, menghargai keunikannya, dan memastikan mereka merasa didengar, orang tua dapat membantu anak tengah tumbuh dengan rasa percaya diri dan kebahagiaan yang sama seperti saudara-saudaranya.

Jika Mama ingin menciptakan waktu bonding yang berkualitas dengan si kecil, Mamasewa menyediakan berbagai pilihan mainan seru untuk anak. Yuk, cek koleksi lengkapnya di Mamasewa dan temukan yang sesuai untuk keluarga!

Tinggalkan Balasan