Ada yang anaknya baru pertama kali puasa tahun ini? Rasanya campur aduk ya, Mam. Bangga karena si kecil sudah mau belajar ibadah, tapi ternyata realitanya nggak semulus ekspektasi. Baru hari pertama sudah drama sahur. Siang hari mulai merengek minta buka. Pulang sekolah wajahnya kusut, emosinya naik turun, sedikit-sedikit ngambek.
Tenang. Anak yang cranky saat puasa itu bukan sengaja ingin menguji kesabaran Mama. Mereka hanya sedang belajar sesuatu yang besar, yaitu menahan diri. Dan itu tidak mudah, bahkan untuk orang dewasa. Mau tahu tips mengatasi anak cranky saat puasa? Temukan tipsnya di sini!
Teladan Sahabat Rasul Menghadapi Anak yang Rewel Saat Puasa

Tahukah Mama kalau fenomena anak rewel saat puasa ini sudah ada sejak zaman dahulu? Di masa para sahabat, anak-anak juga belajar berpuasa. Dan tentu saja, mereka pun pernah merasa lapar dan mulai merengek.
Tapi para wanita Madinah saat itu tidak memilih marah. Mereka juga tidak serta-merta membatalkan puasa anak karena tidak tega. Mereka memahami bahwa anak yang lapar itu emosinya sedang tidak stabil.
Alih-alih memarahi, mereka membuatkan mainan sederhana dari rajutan wol bulu domba. Saat anak mulai gelisah dan merengek, mainan itu diberikan untuk mengalihkan perhatian sampai waktu berbuka tiba.
Konsep ini dikenal sebagai gamifikasi, untuk membuat ibadah terasa menyenangkan. Ternyata, jauh sebelum teori parenting modern berkembang, Islam sudah memberi contoh luar biasa tentang bagaimana menghadapi anak saat latihan puasa ya, Mam!
Baca Juga: Manfaat Anak Belajar Puasa Sejak Dini, Bukan Sekadar Menahan Lapar
7 Tips Mengatasi Anak Cranky Saat Puasa
Setiap anak punya tantangan masing-masing saat Ramadan. Tapi ada beberapa pendekatan yang bisa membantu Mama menghadapi ini dengan lebih kalem.
1. Mulai dari Sahur yang Tenang dan Berkualitas

Sering kali drama siang hari berakar dari sahur yang berantakan. Anak bangun dalam kondisi setengah sadar, makan seadanya, lalu kurang minum. Siang hari pun jadi berat.
Coba perlahan ubah suasana sahur jadi lebih hangat. Bangunkan dengan lembut, ajak ngobrol ringan, dan pastikan ia makan cukup karbohidrat kompleks, protein, serta minum yang cukup. Tubuh yang terisi dengan baik biasanya lebih stabil emosinya.
Baca Juga: 9 Tips Membangunkan Anak Sahur, Tanpa Drama dan Anti Rewel
2. Dengarkan Keluhan Anak
Ketika anak mulai merengek lapar dan minta makan, biasanya respon pertama yang keluar adalah ingin langsung menasihati. Padahal, yang ia butuhkan pertama kali bukan ceramah, tapi empati.
Jadi, cobalah sedikit menahan diri dan validasi perasaannya dulu. Misalnya dengan mengatakan “Iya ya, pasti nggak enak rasanya. Mama juga lagi nahan lapar nih.” Kalimat sederhana seperti itu membuat anak tidak sendirian menghadapi rasa tidak nyaman.
3. Alihkan Sebelum Emosi Memuncak
Biasanya ada jam-jam rawan di mana anak mulai tidak sabar. Di sinilah peran pengalihan fokus jadi penting.
Ajak ia membuat countdown buka puasa, main peran jadi penjual takjil, menyusun puzzle, atau melakukan aktivitas sederhana yang mereka sukai. Ketika pikirannya sibuk dengan hal menyenangkan, rasa laparnya tidak lagi jadi pusat perhatian.
Baca Juga: 7 Ide Aktivitas Ramadan Edukatif, Bantu Alihkan Rasa Lapar Anak
4. Jadikan Puasa Sebagai “Misi Spesial”

Anak sangat suka merasa sedang menjalankan misi penting. Buat tantangan kecil seperti, kalau hari ini berhasil sahur tanpa drama atau bertahan tanpa mengeluh sampai dzuhur, mereka bisa bisa dapat “hadiah”.
Bentuk apresiasinya bisa sederhana saja, seperti memberi sticker, pelukan ekstra, atau pujian tulus. Poin utamanya bukan soal hadiahnya, tapi pengakuan atas usahanya.
5. Kurangi Tekanan Aktivitas
Kalau biasanya jadwalnya padat, mungkin selama Ramadan bisa sedikit dilonggarkan.
Tubuh yang lelah membuat emosi lebih mudah meledak. Memberi ruang istirahat sangat penting untuk menjaga mood dan kesehatan anak—sekaligus memahami kapasitas mereka.
Baca Juga: Tips Menjaga Mood Anak saat Ramadan: Anak Tetap Ceria, Mama Anti “Ngereog”
6. Beri Ruang untuk Berproses
Kalau di tengah jalan anak benar-benar tidak kuat atau bahkan menunjukkan tanda dehidrasi, tidak apa-apa. Latihan puasa itu proses, bukan perlombaan.
Daripada memaksakan sampai anak trauma atau terancam kesehatannya, lebih baik beri pengalaman yang menyenangkan agar tahun depan mereka mau mencoba lagi dengan lebih semangat.
7. Kenali Polanya

Setiap anak unik. Ada yang mulai sensitif menjelang ashar, ada yang justru di pagi hari. Kalau Mama sudah mengenali polanya, Mama bisa menyiapkan aktivitas sebelum “jam rawan” itu tiba.
Strategi ini sering kali lebih efektif daripada menenangkan saat badai sudah datang.
Baca Juga: Menghadapi Anak Mengeluh Lapar saat Puasa, Haruskah Mama Menyerah?
Mengatasi anak cranky saat puasa memang menguji kesabaran. Tapi di balik semua drama kecil itu, sebenarnya ada proses besar yang sedang terjadi. Anak belajar menahan diri—dan kita juga belajar menahan emosi.
Dan seperti para ibu di Madinah dulu, kita pun bisa menggunakan pengalihan fokus sebagai trik yang lembut tapi efektif. Salah satunya dengan menyediakan mainan yang benar-benar anak suka.
Tidak harus beli karena anak bisa saja cepat bosan. Sekarang, Mama bisa menyewa mainan favorit si kecil di Mamasewa. Praktis, hemat, rumah tetap rapi, dan Ramadan jadi lebih hangat tanpa drama. Yuk, cek koleksinya di www.mamasewa.com!































































