Rasanya hampir semua ibu pernah berada pada fase kesal ketika anak “susah diatur”—entah suka membantah, tidak mau mendengar, atau sulit mengikuti arahan. Situasi ini sering membuat ibu kewalahan, terutama jika sedang lelah atau menghadapi banyak tuntutan lain. Padahal, perilaku seperti ini seringkali muncul sebagai bagian dari proses perkembangan anak dan bukan cerminan bahwa anak “nakal” lho, Mam. Maka dari itu, lewat artikel ini, Mamasewa akan membantu Mama memahami penyebabnya sekaligus memberikan cara menghadapi anak yang susah diatur dengan lebih kalem tapi efektif. Simak, ya!
Mengapa Anak Terlihat Susah Diatur?

Setiap anak memiliki karakter dan ritme perkembangannya sendiri. Ada anak yang mudah mengikuti arahan, ada pula yang sangat ekspresif, sensitif, atau kuat pendiriannya. Namun, secara umum, berikut beberapa penyebab mengapa anak terlihat sulit diatur:
- Sedang belajar kemandirian sehingga lebih sering berkata “tidak”.
- Kelelahan atau overstimulated setelah bermain atau sekolah.
- Berusaha mencari koneksi, bukan sekadar melawan.
- Tidak memahami instruksi karena terlalu panjang atau tidak jelas.
- Sedang mengembangkan emosi, yang belum stabil pada usia dini.
Baca Juga: Tips Menghadapi Strong-willed Children, Batu Tidak Bisa Dilawan Batu
Cara Menghadapi Anak yang Susah Diatur
Menghadapi anak yang “susah diatur” sering membuat orang tua kewalahan, apalagi ketika energi sudah menipis. Namun, sebelum menyimpulkan apa pun, coba cara ini untuk mengatasinya.
1. Tetap Tenang dan Kendalikan Nada Bicara

Saat anak tidak mau mendengarkan, reaksi spontan yang muncul biasanya adalah marah. Namun, anak justru meniru cara orang tua bereaksi. Dengan tetap tenang, Mama memberi contoh bagaimana menghadapi situasi sulit tanpa meledak. Nada suara yang lembut tapi tegas cenderung membuat anak lebih menerima arahan.
Baca Juga: Cara Efektif Menghadapi Anak yang Suka Membantah, Jangan Tersulut Dulu!
2. Gunakan Instruksi Singkat dan Jelas
Anak mudah kehilangan fokus jika instruksi terlalu panjang. Cobalah menggunakan kalimat yang sederhana dan spesifik, seperti “Ayo pakai sepatu sekarang,” daripada “Kita mau pergi, jadi cepat pakai baju, ambil tas, dan jangan lupa sepatumu.” Instruksi yang jelas memudahkan anak memahami apa yang harus dilakukan.
3. Bangun Koneksi Sebelum Memberi Koreksi
Anak akan lebih kooperatif jika merasa dipahami. Luangkan waktu 10–20 detik untuk berjongkok, menatap mata anak, atau menyentuh bahunya sebelum memberikan arahan. Pendekatan ini memberi rasa aman dan membantu menurunkan tensi konflik.
Baca Juga: Jangan Salah Kira, Ternyata Ini Ciri-ciri Anak Berpikir Kritis!
4. Beri Pilihan agar Anak Merasa Punya Kendali

Bukan berarti membiarkan anak selalu menentukan segalanya—namun memberikan pilihan kecil bisa membuat anak merasa dihargai. Misalnya, “Mau sikat gigi dulu atau pakai piyama dulu?” Strategi ini mencegah drama dan membuat anak lebih mau bekerja sama.
5. Pahami Pola “Trigger” Anak
Setiap anak memiliki pemicu yang berbeda. Bisa jadi karena lapar, mengantuk, suasana ramai, tekanan akademik, atau rutinitas yang berubah. Dengan mengenali polanya, Mama bisa mengantisipasi situasi sebelum anak mulai menolak atau membantah.
Baca Juga: Tanda-tanda Stres pada Anak karena Sekolah, Orang Tua Bisa Apa?
6. Validasi Perasaan Anak
Menghadapi anak yang kesal atau menolak bisa melelahkan, tetapi memberikan validasi seperti “Mama tahu kamu lagi capek” atau “Kamu lagi nggak mau ya?” membuat anak merasa didengar. Setelah emosi anak mereda, barulah berikan arahan yang Mama inginkan.
7. Konsisten dengan Batasan yang Sudah Disepakati

Anak memerlukan struktur yang jelas untuk merasa aman. Konsistensi juga membantu anak memahami konsekuensi tanpa perlu teriak atau ancaman. Jika Mama mengatakan satu aturan, pastikan aturan itu tetap berlaku meski suasana sedang tidak ideal.
Baca Juga: Rushed Parents Syndrome: Saat Orang Tua Selalu Terburu-buru dan Dampaknya bagi Anak
Menghadapi anak susah diatur memang membutuhkan kehadiran penuh, tetapi dengan pendekatan yang lebih tenang dan empatik, prosesnya bisa menjadi lebih ringan. Hasilnya, interaksi dengan anak pun menjadi lebih harmonis.
Nah, kalau Mama membutuhkan perlengkapan anak yang dapat membantu aktivitas harian lebih praktis, seperti stroller, booster seat, atau mainan edukatif, cek koleksi lengkap Mamasewa. Semua bisa disewa dengan mudah untuk mendukung keseharian Mama dan si kecil!































































