Pernahkah Mama mendapati anak yang sering berkata, “Kenapa aku terus yang disalahkan,” “Aku cuma korban,” atau “Semua jahat sama aku,” bahkan dalam situasi yang sebenarnya seimbang? Perilaku ini sering disebut sebagai playing victim, yaitu kecenderungan anak menempatkan dirinya sebagai pihak yang selalu dirugikan, disakiti, atau tidak dipahami. Meski terdengar sepele, anak suka playing victim tidak boleh langsung dianggap manipulatif atau manja.

Dalam psikologi perkembangan, perilaku ini sering kali merupakan bentuk komunikasi emosional yang belum matang ketika anak mencoba mengekspresikan perasaan tidak aman, kecewa, atau ingin diperhatikan. Lalu bagaimana ya cara mengatasinya?

Penyebab Anak Suka Playing Victim

Anak Suka Playing Victim

Memahami penyebab anak suka playing victim adalah langkah pertama agar orang tua bisa merespons dengan tepat. Berikut beberapa faktor umum yang membuat anak cenderung bermain peran sebagai “korban”.

1. Kesulitan Mengelola Emosi

Anak belum sepenuhnya mampu mengenali, menamai, dan mengelola emosi seperti kecewa, marah, atau sedih. Saat emosi terasa terlalu besar, anak memilih cara termudah untuk mengekspresikannya, yaitu dengan menyalahkan situasi atau orang lain dan menempatkan dirinya sebagai korban.

Baca Juga: Melatih Keterampilan Regulasi Emosi Anak: Manfaat dan Caranya

2. Mencari Perhatian dan Validasi

Dalam beberapa kasus, anak belajar bahwa saat ia terlihat “paling disakiti”, ia akan mendapatkan perhatian lebih, empati, atau pembelaan dari orang dewasa. Tanpa disadari, respons lingkungan ini memperkuat perilaku playing victim pada anak lho, Mam.

3. Pola Asuh yang Terlalu Protektif atau Tidak Konsisten

Anak yang terlalu sering dibela tanpa diajak merefleksikan perannya dalam suatu konflik bisa tumbuh dengan pola pikir bahwa ia selalu benar. Sebaliknya, pola asuh yang inkonsisten juga membuat anak bingung dan lebih memilih posisi aman sebagai korban.

Baca Asuh: Pengaruh Gaya Parenting terhadap Kepribadian Anak: Pentingnya Pola Asuh yang Tepat

4. Kurangnya Keterampilan Sosial dan Problem Solving

Anak yang belum terampil menyelesaikan konflik cenderung merasa “selalu dirugikan” karena ia tidak tahu bagaimana menegosiasikan keinginan atau menyampaikan batasan secara sehat. Lagi lagi, menempatkan diri sebagai “korban” adalah cara untuk main aman.

5. Pengaruh Lingkungan dan Model Perilaku

Anak belajar dari apa yang ia lihat. Jika di lingkungan sekitar—termasuk di rumah—anak sering melihat orang dewasa menyalahkan keadaan atau memainkan peran korban, ia bisa meniru pola perilaku tersebut.

Baca Juga: Dampak Lingkungan yang Kompetitif, Ada Positif dan Negatifnya!

Cara Mengatasi Anak yang Suka Playing Victim

Jika dibiarkan, kebiasaan playing victim dapat memengaruhi perkembangan emosi dan sosial anak. Anak bisa tumbuh dengan external locus of control, yaitu keyakinan bahwa semua hal buruk terjadi karena orang lain atau situasi, bukan karena pilihan atau tindakannya sendiri.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat kemandirian, kepercayaan diri, dan kemampuan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, Mama perlu mengatasi perilaku ini. Berikut beberapa langkah yang bisa Mama lakukan.

1. Validasi Emosi, Bukan Ceritanya

Alih-alih langsung membantah, validasi dulu perasaan anak. Misalnya, “Mama lihat kamu sedih dan kecewa.” Validasi emosi membantu anak merasa dipahami, tanpa harus menguatkan narasi bahwa ia selalu jadi korbannya.

Baca Juga: 9 Tanda Anak Menjadi People Pleaser, Awas Ini Bukan Kebiasaan Baik!

2. Ajak Anak Refleksi dengan Pertanyaan Terbuka

Setelah emosi mereda, ajak anak berpikir, “Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan berbeda lain kali?” Pendekatan ini melatih anak melihat perannya sendiri dalam situasi tersebut.

3. Ajarkan Bahasa Emosi yang Tepat

Bantu anak menamai emosinya dengan jelas, seperti marah, kecewa, atau iri. Anak yang mampu menyebutkan emosinya dengan tepat cenderung tidak perlu “bermain peran” untuk menyampaikannya.

Baca Juga: 7 Cara Mengajarkan Keterampilan Sosial pada Anak, Mudah dari Rumah

4. Jangan Langsung Membela atau Menyalahkan

Saat terjadi konflik, posisikan diri sebagai mediator, bukan pembela mutlak. Ini membantu anak belajar bahwa setiap situasi bisa memiliki lebih dari satu sudut pandang.

5. Beri Contoh Cara Bertanggung Jawab

Tunjukkan pada anak bahwa orang dewasa pun bisa mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Modeling ini sangat kuat dalam membentuk pola pikir anak. Cara paling mudah dan menyenangkan adalah lewat permainan. Coba sewa beberapa pretend play di Mamasewa sebagai variasi  situasi.

Baca Juga: Cara Mengisi Tangki Cinta Anak, Jangan Sampai Sampai Kekurangan Kasih Sayang!

Anak suka playing victim bukan berarti ia sengaja mencari masalah. Sering kali, itu adalah tanda bahwa anak sedang belajar memahami emosi dan hubungan sosialnya. Dengan pendekatan yang tepat, Mama bisa membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, percaya diri, dan mampu melihat situasi secara lebih seimbang. Perjalanan ini memang tidak instan, tetapi setiap langkah kecil yang Mama lakukan akan sangat berarti bagi perkembangan emosional si kecil.

Tinggalkan Balasan