Baru juga rebahan, tiba-tiba si kecil berebut mainan sama adiknya? Pasti pernah dong Mam berada di situasi ini! Meski lumayan menyebalkan, tapi anak berebut mainan itu sebenarnya hal yang lumrah. Sebab keterampilan sosio-emosionalnya memang masih belum sempurna.

Pertanyaannya, apa sih yang harus dilakukan orang tua saat anak berebut mainan? Yuk, cari tahu cara tepat untuk mengatasinya dan kapan orang tua perlu turun tangan di artikel ini!

Cara Menghadapi Anak Berebut Mainan

Meski menciptakan “keributan”, situasi ini sebenarnya juga memiliki banyak manfaat untuk si kecil. Misalnya, melatih diri menyelesaikan konflik, belajar berbagi, mengelola emosi, hingga memahami batasan. 

Namun, meski kelihatannya sepele, jika tidak ditangani dengan bijak, anak bisa tumbuh menjadi terlalu egois atau justru selalu mengalah. Maka dari itu, Mama perlu tahu tips menghadapi anak berebut mainan berikut ini.

1. Tidak Buru-buru Menengahi

Anak Berebut Mainan

Ketika anak berebut mainan, orang tua sering kali tergoda untuk langsung menentukan siapa yang salah dan siapa yang harus mengalah. Namun, ini justru bisa membuat salah satu anak merasa tidak diperlakukan adil lho, Mam.

Jadi, daripada buru-buru menengahi, lebih baik Mama membantu anak memahami situasi dan mencari solusinya sendiri.

Misalnya, tanyakan, “Kalian berdua sama-sama mau main ini, menurut kalian bagaimana cara supaya bisa bermain tanpa bertengkar?”. Dengan begitu, anak akan belajar menyelesaikan konflik tanpa selalu bergantung pada keputusan orang tua.

Baca Juga: Sibling Rivalry: Bagaimana Mengatasi Persaingan antara Saudara Kandung?

2. Jangan Malah Ngomporin

Nah, sering kali orang tua ikut tersulut emosinya ketika melihat anak-anaknya berebut mainan. Padahal, sebagai orang tua, kita harus menjadi penengah yang bijak—bukan malah memperkeruh suasana.

Mengomentari dengan nada menyalahkan seperti “Adik sih, ambil mainan Kakak terus!” atau “Kakak harusnya lebih ngalah dong, kan lebih besar!” justru bisa membuat anak merasa semakin kesal.

Sebaliknya, Mama perlu fokus mengajak anak mencari solusi, bukan mencari siapa yang salah. Dengan begitu, anak belajar menyelesaikan masalah tanpa harus bertengkar atau merasa didukung untuk bersikap defensif.

3. Tidak Memaksa Anak untuk Berbagi

Mengajarkan berbagi memang penting, tetapi memaksa anak untuk langsung memberikan mainannya bukan solusi yang tepat. Pasalnya, anak perlu memahami konsep berbagi secara alami, bukan karena tekanan dari orang tua.

Sebagai gantinya, Mama bisa mengajarkan bahwa berbagi bisa dilakukan dengan cara bergantian atau mencari solusi lain yang sama-sama menguntungkan. Dengan cara ini, anak belajar bahwa berbagi adalah proses yang dilakukan dengan kesadaran, bukan paksaan.

Baca Juga: 10 Bahaya Membandingkan Anak, Sama Sekali Tidak Memotivasi!

4. Terapkan “Timer Ajaib”

Anak Berebut Mainan

Menghadapi situasi ini seperti makanan sehari-hari? Maka Mama mungkin membutuhkan “timer ajaib”.

Untuk melakukannya, Mama bisa menggunakan timer atau alarm di ponsel untuk memberi batas waktu bermain. Misalnya, 5 menit untuk kakak, lalu 5 menit selanjutnya untuk adik.

Dengan cara ini, anak akan belajar caranya bergantian dan menunggu dengan adil. Setidaknya, aturan ini mengurangi ketegangan karena anak tahu bahwa mereka akan mendapat giliran sesuai kesepakatan. Anak pun biasanya lebih patuh pada aturan eksternal semacam ini, dibanding sekadar omelan “Ayo gantian, dong!”.

5. Pisahkan Dulu jika Situasinya Memanas

Jika anak tampak bisa menyelesaikan konfliknya, Mama cukup memantau dari jauh. Namun, kalau situasi sudah memanas dan anak mulai menangis atau bahkan bertindak agresif, orang tua perlu segera turun tangan.

Tapi ingat, harus bijak dan jangan langsung memihak atau menyalahkan.

Pertama, bantu anak menenangkan diri terlebih dahulu. Kemudian, pisahkan sementara agar masing-masing bisa mengelola emosi dan berpikir lebih jernih. Lalu, setelah sama-sama tenang dan situasi kembali kondusif, Mama bisa mengajak mereka diskusi bagaimana caranya supaya ini tidak terulang lagi. Intinya, manfaatkan kesempatan ini untuk mengajarkan nilai-nilai penting.

Baca Juga: Mengenal Tahapan Bermain Anak Menurut Teori Perkembangan Sosial

6. Tetap Tenang dan Tidak Ikut Marah

Saat anak berebut mainan dan situasi mulai memanas, orang tua perlu menjaga ketenangan. Jika orang tua ikut marah atau berteriak, anak akan belajar bahwa menyelesaikan konflik harus dengan emosi.

Sebaliknya, berbicara dengan nada lembut dan menunjukkan ekspresi yang tenang akan membantu anak memahami bahwa masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

Cobalah katakan, “Mama lihat kalian sedang berebut. Yuk, kita cari cara supaya semua bisa bermain dengan nyaman.” Dengan begitu, anak merasa lebih didengar dan lebih terbuka untuk mencari solusi.

7. Memberi Contoh Komunikasi yang Baik

Anak-anak sering kali berebut mainan karena belum mampu mengungkapkan keinginannya dengan presisi. Maka, ajarkan anak cara berkomunikasi yang baik.

Jadi, daripada langsung merebut, ajarkan anak untuk meminta izin atau bernegosiasi dengan teman atau saudaranya. Misalnya dengan mengatakan, “Kalau mau pinjam, bilang dulu ya, boleh nggak aku pinjam mainannya?”.

Selain termasuk dalam adab dan sopan santun, ini juga bertujuan untuk menanamkan empati juga penting agar anak bisa memahami perasaan orang lain.

Baca juga: 10 Tips agar Kakak Adik Akur, Orang Tua Dilarang Ikut Ngegas

Nah, jadi itulah cara-cara yang bisa Mama lakukan saat anak berebut mainan. Selain cara-cara di atas, Mama juga bisa lho menyiasatinya dengan menyediakan alternatif mainan lainnya.

Syukurlah, sekarang Mama tidak perlu membeli semuanya, tinggal sewa di Mamasewa supaya anak bisa mencoba berbagai jenis mainan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Dengan cara ini, anak tetap bisa bermain tanpa harus berebut dan Mama pun lebih hemat. Yuk, buruan cek koleksinya!

Tinggalkan Balasan