Persalinan prematur adalah kondisi ketika bayi lahir sebelum usia kehamilan aterm—mencapai 37 minggu. Meski tidak selalu bisa dicegah, memahami penyebab persalinan prematur dapat membantu Mama lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan sejak dini.

7 Penyebab Persalinan Prematur

Dalam dunia medis, persalinan prematur bisa terjadi karena kombinasi beberapa faktor—baik dari kondisi kesehatan ibu, kehamilan itu sendiri, maupun gaya hidup. Berikut beberapa penyebab utama persalinan prematur yang sering ditemukan secara medis.

1. Infeksi Selama Kehamilan

Infeksi, terutama pada saluran kemih, vagina, atau rahim, merupakan salah satu penyebab paling umum persalinan prematur. Itu karena infeksi dapat memicu peradangan yang kemudian merangsang kontraksi sebelum waktunya.

Dalam banyak kasus, infeksi ini tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan rutin selama kehamilan sangat penting untuk mendeteksi kondisi ini sejak awal.

Baca Juga: Cegah Kelahiran Prematur: Langkah Penting yang Bisa Dilakukan Sejak Masa Kehamilan

2. Kehamilan Kembar atau Lebih

Kehamilan dengan lebih dari satu janin (kehamilan kembar) memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami persalinan prematur. Hal ini karena rahim mengalami peregangan lebih cepat dibandingkan kehamilan tunggal.

Selain itu, kebutuhan nutrisi dan beban tubuh ibu juga meningkat, yang dapat memicu tubuh untuk “memulai” persalinan lebih awal.

3. Masalah pada Plasenta

Kondisi seperti plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir) atau solusio plasenta (plasenta terlepas sebelum waktunya) dapat memicu persalinan prematur.

Masalah pada plasenta bisa mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke janin, sehingga dalam beberapa kasus, persalinan perlu dilakukan lebih awal demi keselamatan ibu dan bayi.

Baca Juga: Tanda-tanda Kehamilan Berisiko Tinggi, Jangan Abaikan Gejalanya!

4. Kondisi Kesehatan Ibu

Beberapa kondisi medis pada ibu, seperti tekanan darah tinggi (preeklampsia), diabetes, atau gangguan autoimun, dapat meningkatkan risiko persalinan prematur.

Kondisi ini biasanya memerlukan pemantauan ketat selama kehamilan. Dalam situasi tertentu, dokter mungkin menyarankan persalinan lebih awal untuk menghindari komplikasi yang lebih serius.

5. Riwayat Persalinan Prematur Sebelumnya

Jika Mama pernah mengalami persalinan prematur sebelumnya, risiko untuk mengalami hal yang sama di kehamilan berikutnya cenderung meningkat.

Karena itu, dokter biasanya akan memberikan perhatian khusus dan pemantauan lebih intensif pada kehamilan berikutnya untuk meminimalkan risiko.

Baca Juga: 5 Manfaat Asam Folat untuk Ibu Hamil, Ternyata Bukan Hanya untuk Janin!

6. Jarak Kehamilan yang Terlalu Dekat

Kehamilan yang terjadi dalam jarak waktu yang terlalu dekat, kurang dari 18 bulan dari persalinan sebelumnya, dapat meningkatkan risiko prematur.

Tubuh ibu membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya sebelum kembali menjalani kehamilan. Jika belum pulih optimal, risiko komplikasi, termasuk persalinan prematur, bisa meningkat.

7. Faktor Gaya Hidup dan Stres

Faktor seperti kelelahan berlebihan, stres tinggi, kurang istirahat, hingga kebiasaan merokok atau paparan zat berbahaya juga berkontribusi terhadap risiko prematur.

Stres, khususnya, dapat memicu perubahan hormon yang berpengaruh pada kehamilan. Karena itu, menjaga kondisi fisik dan emosional tetap stabil sangat penting selama masa kehamilan.

Baca Juga: 5 Perbedaan Kontraksi Asli dan Palsu, Mirip tapi Jangan Salah!

Memahami penyebab persalinan prematur bukan untuk membuat Mama khawatir, tetapi agar lebih siap dan waspada. Dengan pemeriksaan rutin, menjaga kesehatan, dan mengikuti anjuran dokter, risiko ini bisa diminimalkan.

Selain itu, memastikan kondisi rumah tetap nyaman dan mendukung juga bisa membantu Mama menjalani kehamilan dengan lebih tenang.

Di Mamasewa, Mama bisa menemukan berbagai perlengkapan yang mendukung kenyamanan selama masa kehamilan hingga persiapan persalinan. Dengan sistem sewa, Mama bisa lebih fleksibel menyesuaikan kebutuhan tanpa harus membeli semuanya sekaligus.

Tinggalkan Balasan