Di tengah rutinitas yang padat antara mengurus anak, bekerja, sampai urusan rumah, ada kalanya orang tua butuh “pelarian” kecil untuk tetap waras. Entah itu nonton kartun, beli barang lucu, atau sekadar menikmati hal-hal sederhana yang dulu disukai waktu kecil. Anehnya, hal seperti ini sekarang bukan cuma Mama yang mengalami, tapi banyak juga orang dewasa lain yang mengalaminya. Fenomena ini dikenal dengan istilah kidulting. Apa itu kidulting dan apa penyebabnya? Temukan jawabannya di sini!
Apa Itu Kidulting?

Kidulting adalah istilah yang berasal dari gabungan kata kid (anak-anak) dan adult (dewasa). Secara sederhana, ini menggambarkan orang dewasa yang tetap menikmati hal-hal yang identik dengan dunia anak-anak, seperti mainan, kartun, atau hobi masa kecil.
Istilah ini mulai dikenal luas sejak awal 2000-an, ketika pasar mulai melihat bahwa orang dewasa juga memiliki ketertarikan pada produk bernuansa nostalgia. Dalam perkembangannya, kidulting tidak hanya dipandang sebagai tren, tetapi juga bagian dari respons emosional—terutama ketika berkaitan dengan pengalaman masa kecil yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Baca Juga: Cara Mengajarkan Literasi Finansial pada Anak Sejak Dini: Bekal Penting untuk Masa Depan
Kenapa Fenomena Kidulting Muncul?

Jika dilihat lebih dalam, kidulting sering kali bukan sekadar tren. Ada kombinasi antara kondisi emosional hingga perubahan akses yang membuat fenomena ini semakin relevan.
1. Tekanan Hidup Orang Dewasa
Kehidupan orang dewasa penuh dengan tanggung jawab—baik pekerjaan, rumah tangga, maupun pengasuhan anak. Dalam kondisi ini, kidulting sering dianggap sebagai hal kecil yang menyenangkan dan bisa bantu mengurangi stres sekaligus bentuk self-reward.
Baca Juga: Apa Itu Parentification: Saat Anak Terpaksa Menjadi “Orang Tua” di Usia Dini
2. Keinginan Lama yang Belum Sempat Terpenuhi
Tidak semua orang memiliki masa kecil dengan akses yang cukup terhadap hal-hal yang diinginkan. Keterbatasan ekonomi atau kondisi tertentu membuat banyak keinginan harus ditunda. Saat dewasa dan memiliki kemampuan finansial, keinginan tersebut bisa muncul kembali sebagai bentuk “pemenuhan” yang tertunda.
3. Nostalgia Masa Kecil
Ada rasa hangat dan aman yang muncul saat kita kembali ke hal-hal dari masa kecil. Buat sebagian orang, ini jadi cara untuk mengingat masa-masa sederhana yang menyenangkan.
Baca Juga: Core Memory Anak: Apa Itu dan Bagaimana Menciptakannya
4. Akses yang Kini Jauh Lebih Mudah
Perkembangan e-commerce membuat berbagai produk—termasuk yang bersifat nostalgia—mudah didapatkan. Hal yang dulu sulit dijangkau kini tersedia dalam hitungan klik. Kondisi ini mempercepat proses pengambilan keputusan, termasuk yang berbasis emosi.
5. Batas Tipis antara Healing dan Impulsif
Kidulting dapat menjadi bentuk self-healing yang positif. Namun, jika tidak dikontrol dengan bijak, kebiasaan ini juga bisa mendorong perilaku impulsif. Ketika keputusan lebih banyak didasarkan pada emosi, risiko pengeluaran berlebih menjadi lebih besar.
Baca Juga: Tips Mengatur Keuangan Keluarga ala Mama Hebat, Yuk Cek Caranya!
Cara Bijak Menikmati Kidulting

Walaupun seru, tetap penting untuk menikmati kidulting dengan cara yang bijak, ya, Mam. Biar nggak berubah jadi kebiasaan impulsif yang malah bikin nyesel di akhir.
Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dipertimbangkan sebelum mengikuti kehendak emosi:
- Memahami alasan di balik keinginan tersebut, apakah karena kebutuhan atau dorongan emosional semata.
- Menentukan prioritas, terutama ketika berkaitan dengan kebutuhan keluarga.
- Menyesuaikan dengan kondisi finansial agar tetap seimbang.
- Mempertimbangkan alternatif selain membeli, terutama untuk barang yang digunakan dalam jangka waktu singkat atau sifatnya impulsif.
Lewat pendekatan ini, Mama tetap bisa menikmati momen kecil yang menyenangkan tanpa harus mengorbankan hal yang lebih penting. Terlebih, fenomena kidulting saat ini sudah dilihat oleh brand sebagai peluang besar. Maka dari itu, tetaplah bijak memahami keinginan.
Baca Juga: Kisah Orang Tua Cemburu dengan Anak: Suami Diamkan Istri 20 Tahun
Dan, jangan menjadikan anak sebagai alasan untuk memenuhinya. Karena faktanya, banyak barang-barang dan perlengkapan anak yang hanya dipakai sebentar—entah karena anak cepat bosan atau tumbuh begitu cepat.
Daripada dibeli semua, Mama bisa pilih opsi yang lebih fleksibel dengan menyewanya di Mamasewa. Selain lebih hemat, rumah juga nggak penuh barang dan Mama tetap bisa memenuhi kebutuhan si kecil tanpa harus overbudget. Dengan begitu, Mama tetap bisa memberikan yang terbaik tanpa harus menanggung beban yang tidak perlu—baik secara finansial maupun emosional.
Yuk, temukan semua yang Mama butuhkan di www.mamasewa.com!































































