Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baiknya teladan dalam setiap aspek kehidupan. Bukan hanya dalam ibadah dan akhlak, tetapi juga dalam cara beliau memperlakukan anak-anak. Menariknya, di masa itu belum ada istilah parenting style, belum ada buku psikologi anak, dan belum ada seminar pola asuh. Namun, melalui hadis-hadis sahih, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah SAW membangun kedekatan, menanamkan adab, sekaligus membentuk karakter anak dengan cara yang begitu lembut dan manusiawi. Mau tahu bagaimana cara mendidik anak ala Rasulullah? 

5 Teladan Mendidik Anak Ala Rasulullah

Ada pola yang konsisten dalam cara Rasulullah memperlakukan anak kecil, yakni bahwa beliau tidak pernah memandang anak kecil sebagai “orang dewasa versi mini” yang harus selalu patuh dan benar tanpa proses.. Berikut lima teladan nyata yang diabadikan dalam hadis sahih.

1. Menunjukkan Kasih Sayang Secara Fisik

Mendidik Anak Ala Rasulullah

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah mencium cucunya, Hasan bin Ali. Saat itu Al-Aqra’ bin Habis berkata bahwa ia memiliki sepuluh anak namun tidak pernah mencium mereka. Rasulullah pun bersabda:

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sahih dan menjadi fondasi penting dalam parenting Islami—yang secara tidak langsung menyatakan bahwa kasih sayang harus diekspresikan, bukan hanya disimpan di hati.

Di masa Arab jahiliah, menunjukkan kasih sayang, terutama kepada anak laki-laki dianggap melemahkan wibawa. Namun Rasulullah justru meruntuhkan paradigma itu. Beliau mencium, memeluk, memangku cucunya di hadapan sahabat.

Ini memberi pesan kuat bahwa sentuhan fisik yang penuh cinta membangun rasa aman (secure attachment) dalam diri anak. Anak yang merasa dicintai secara nyata cenderung tumbuh lebih percaya diri, stabil emosinya, dan tidak haus validasi di luar rumah.

Baca Juga: Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak: Pandangan Sains dan Islam

2. Bersabar Tanpa Menghina atau Merendahkan

Anas bin Malik RA meriwayatkan dalam hadis sahih Muslim bahwa ia melayani Rasulullah selama sepuluh tahun sejak usia kecil. Ia berkata:

“Tidak pernah sekalipun beliau berkata ‘ah’ kepadaku, dan tidak pernah berkata atas sesuatu yang kulakukan: ‘Mengapa kamu lakukan ini?’ atau atas sesuatu yang tidak kulakukan: ‘Mengapa tidak kamu lakukan?’”

Bayangkan, sepuluh tahun berinteraksi dengan anak kecil—fase usia yang penuh kesalahan dan kelalaian—tanpa bentakan dan celaan.

Ini bukan berarti Rasulullah membiarkan kesalahan. Tapi beliau memilih pendekatan yang menjaga harga diri anak dengan tidak mempermalukan, tidak melabeli, dan tidak mengungkit-ungkit kesalahan.

Dalam konteks hari ini, Rasul telah mengajarkan kita untuk memisahkan antara perilaku dan identitas anak, serta pentingnya mengoreksi tindakan tanpa menyakiti pribadinya.

3. Mengajarkan Adab dengan Jelas dan Lembut

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Umar bin Abi Salamah RA pernah makan bersama Rasulullah, dan tangannya bergerak ke sana kemari mengambil makanan. Rasulullah menegurnya dengan kalimat:

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat denganmu.”

Perhatikan struktur kalimatnya. Beliau memanggil dengan lembut: “Wahai anak kecil…” bukan dengan bentakan. Lalu memberi tiga instruksi yang jelas, singkat, dan aplikatif.

Tidak ada nada merendahkan. Tidak ada kalimat, “Kamu ini bagaimana sih?” atau semacamnya.  Ini menunjukkan bahwa mendidik anak ala Rasulullah itu konkret. Anak diberi tahu apa yang harus dilakukan, bukan hanya diberi tahu bahwa ia salah.

Sekarang kita pun memahami bahwa memberi arahan yang jelas dapat membantu anak memahami ekspektasi, sementara kelembutan menjaga hubungan tetap hangat.

Baca Juga: 7 Cara Menanamkan Nilai Agama Sejak Dini, Mulai dengan Contoh

4. Memahami Dunia Bermain Anak

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari, Rasulullah pernah memanjangkan sujudnya karena cucunya menaiki punggung beliau saat shalat. Setelah selesai, para sahabat bertanya sebab lamanya sujud itu. Beliau menjelaskan bahwa cucunya sedang berada di atas punggungnya dan beliau tidak ingin membuatnya tergesa turun.

Momen ini sangat menyentuh. Shalat adalah ibadah agung. Namun Rasulullah tetap mempertimbangkan perasaan anak kecil yang sedang bermain. Beliau tidak marah, tidak menurunkan secara paksa, dan tidak mempermalukannya di depan jamaah.

Ini menunjukkan bahwa memahami tahap perkembangan anak adalah bagian dari kebijaksanaan. Anak kecil belum memahami sakralitas seperti orang dewasa dan Rasulullah menghadapinya dengan kasih, bukan dengan kemarahan.

Pesannya jelas bahwa disiplin tetap penting, tetapi harus proporsional dengan usia dan pemahaman anak.

5. Menghargai Perasaan Anak

Mendidik Anak Ala Rasulullah

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah memanggil adik Anas bin Malik yang masih kecil dengan panggilan lembut:

“Ya Aba ‘Umair, apa yang dilakukan Nughair?”

Nughair adalah burung kecil peliharaan anak itu yang telah mati. Rasulullah tidak menganggap kesedihan atas burung kecil sebagai hal sepele. Beliau justru hadir, menyapa dengan panggilan kehormatan (kun-yah), dan bertanya dengan nada ringan.

Ini luar biasa. Beliau menunjukkan bahwa dunia anak—mainan, hewan peliharaan, hal-hal kecil—itu penting. Ketika orang tua menghargai emosi anak, anak belajar bahwa perasaannya valid dan layak didengar.

Dari sinilah tumbuh kecerdasan emosional. Anak yang terbiasa dihargai perasaannya akan lebih mampu menghargai perasaan orang lain.

Baca Juga: Manfaat Anak Belajar Puasa Sejak Dini, Bukan Sekadar Menahan Lapar

Di zaman sekarang, orang tua memang punya tantangan berbeda. Namun manusia terbaik di muka Bumi ini telah memberikan contoh nyata yang nilainya masih bisa kita amini sampai hari ini.

Yuk, dampingi anak dengan penuh kasih sayang dan penuhi kebutuhannya lewat stimulasi, aktivitas, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya. Kalau sekarang Mama sedang mencari kebutuhan yang sesuai dengan tahap usia si kecil, cek dulu pilihan yang tersedia di Mamasewa. Ada newborn essentials sampai beragam pilihan mainan untuk si kecil, lho!

Tinggalkan Balasan