Mama pasti pernah kan berada di situasi yang memaksa Mama harus terlihat kuat di depan anak-anak, pasangan, atau orang lain padahal di dalam hati sebenarnya lelah, kewalahan, bahkan ingin menangis? Tenang, Mama tidak sendiri. Banyak orang tua mengalami yang disebut duck syndrome. Fenomena ini sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja—terutama mereka yang menghadapi tuntutan hidup datang bertubi-tubi, sementara ekspektasi untuk selalu “baik-baik saja” tak bisa ditangguhkan.
Nah, yuk, kita pelajari lebih dalam tentang duck syndrome pada orang tua, kenapa ini bisa terjadi, apa dampak, dan bagaimana cara menyikapinya di artikel ini!
Mengenal Duck Syndrome pada Orang Tua

Duck syndrome adalah istilah yang menggambarkan kondisi di mana seseorang tampak tenang dan terkendali di permukaan, namun sebenarnya sedang berjuang keras di bawahnya. Mirip seperti seekor bebek yang terlihat mengapung anggun di atas air, padahal kakinya mengayuh cepat tanpa henti di bawah permukaan.
Istilah ini pertama kali populer di kalangan mahasiswa Stanford University yang menggambarkan tekanan untuk terlihat sukses dan tenang, meskipun kenyataannya mereka sedang stres atau kelelahan .
Meski awalnya dikaitkan dengan mahasiswa, fenomena ini juga relevan bagi siapa pun, termasuk orang tua yang sering merasa harus selalu tampil kuat dan “baik-baik saja” di depan anak-anak, pasangan, dan lingkungan sekitar.
Ada pun ciri-ciri duck syndrome yang paling sering ditunjukkan oleh orang tua, yaitu:
- Merasa harus selalu terlihat kuat, serba bisa, dan tidak menunjukkan kelemahan di depan orang lain.
- Enggan atau merasa bersalah saat ingin meminta bantuan karena takut dianggap tidak mampu dan merepotkan.
- Sering merasa lelah secara emosional, tapi tetap memaksakan diri untuk menjalani rutinitas tanpa jeda.
- Merasa tidak cukup baik atau gagal memenuhi ekspektasi sebagai orang tua meskipun sudah berusaha keras.
- Merasa kehilangan jati diri di tengah peran sebagai orang tua, istri, atau pekerja, dan sulit mengenali diri sendiri di luar peran-peran tersebut.
Baca Juga: Parental Mental Load: Apa Itu dan Bagaimana Cara Mengatasinya
Penyebab Duck Syndrome pada Orang Tua

Terkesan baik-baik saja di luar, tapi diam-diam lelah luar biasa—itulah yang sering dirasakan banyak orang tua yang mengalami duck syndrome. Agar tidak terus-menerus terjebak dalam perasaan ini, penting untuk mengenali beberapa penyebabnya seperti di bawah ini.
1. Tekanan Sosial untuk Menjadi Orang Tua Ideal
Media sosial dan lingkungan sekitar sering menampilkan gambaran “orang tua sempurna” yang selalu sabar, kreatif, dan penuh energi. Tanpa sadar, hal ini membentuk standar tak realistis yang membuat kita merasa harus selalu tampil baik dan tidak boleh gagal. Padahal, di balik semua pencapaian itu, ada perjuangan yang sering disembunyikan.
Baca Juga: Mengelola Parental Stress dengan Efektif, Harus Dipraktikkan!
2. Minimnya Dukungan Sosial
Bagi orang tua yang tinggal jauh dari keluarga atau teman dekat, menjalani peran tanpa dukungan terasa lebih berat. Tidak memiliki ruang untuk bercerita atau meminta tolong membuat semuanya harus ditanggung sendiri. Bahkan, ketika punya teman, kesibukan masing-masing bisa membuat komunikasi jadi minim. Ini membuat beban terasa lebih sepi dan menumpuk.
3. Melakoni Peran Ganda
Orang tua masa kini tidak hanya menjadi pengasuh anak, tapi juga menjadi pekerja profesional, pasangan, anak dari orang tua yang mulai menua, sekaligus pengatur rumah tangga. Semua peran ini dijalankan hampir bersamaan tanpa jeda yang cukup. Akibatnya, energi terkuras dan waktu untuk diri sendiri menjadi nyaris tidak ada. Dalam kondisi seperti ini, wajar kalau akhirnya merasa lelah tapi tetap “berusaha terlihat baik-baik saja”.
Baca Juga: Tantangan Menjadi Working Mom dan Cara Cerdas Menghadapinya
4. Pola Asuh Masa Kecil
Banyak dari kita dibesarkan dengan pola pikir bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan. Akhirnya, saat dewasa, kita terbiasa memendam perasaan dan tidak mencari bantuan. Cara ini mungkin dulu terasa “aman”, tapi saat menjadi orang tua, justru bisa menumpuk dan menjadi pergolakan batin yang luar biasa.
5. Kurangnya Validasi
Banyak orang tua menganggap bahwa lelah adalah bagian dari kewajiban sehingga perjuangan sehari-hari dianggap hal biasa yang tak perlu “dibanggakan”. Padahal, tidak semua orang sanggup menjalani beban seberat itu. Ketika rasa lelah terus-menerus dianggap sepele, Mama jadi sulit menghargai diri sendiri dan bisa menciptakan stres yang makin dalam—meski tampak baik-baik saja di luar.
Baca Juga: Tips Menghadapi Kritik Pengasuhan Anak, Cara Keren Wajib Dicoba!
Dampak Duck Syndrome bagi Orang Tua

Saking fokusnya “menjalankan peran” sebaik mungkin, sering kali Mama lupa bahwa duck syndrome bisa perlahan menggerogoti kesejahteraan fisik dan mental Anda. Maka dari itu, waspadai beberapa dampaknya berikut ini.
1. Kelelahan Emosional dan Fisik
Berusaha terlihat tenang di luar sambil berjuang mati-matian di dalam bisa sangat menguras tenaga. Mama mungkin merasa cepat lelah, mudah tersinggung, atau tidak punya energi untuk menikmati hal-hal kecil. Lama-kelamaan, ini bisa memicu stres berkepanjangan hingga burnout.
Baca Juga: Parental Burnout: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya
2. Penurunan Kesehatan Mental
Duck syndrome sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi. Karena merasa harus selalu “kuat”, banyak orang tua akhirnya enggan mencari bantuan. Padahal, memendam emosi terus-menerus hanya akan memperburuk kondisi psikologis.
3. Merasa Terisolasi
Perasaan bahwa “orang lain bisa kok, aku juga harusnya bisa” membuat banyak orang tua menutup diri. Mereka enggan terbuka atau berbagi beban karena takut dianggap lemah. Akibatnya, muncul rasa kesepian dan keterasingan bahkan di tengah keramaian.
Baca Juga: Pentingnya Parenting Talk Time dengan Pasangan, Yuk Jadi Orang Tua yang Kompak!
4. Mengganggu Relasi dengan Anak atau Pasangan
Saat orang tua tertekan, mereka jadi lebih mudah marah, tidak sabaran, atau justru menarik diri. Akibatnya, hubungan dengan anak atau pasangan pun bisa jadi renggang karena komunikasi tidak berjalan sehat. Hal ini dapat menciptakan jarak emosional dalam keluarga.
5. Kehilangan Diri Sendiri
Berusaha memenuhi setiap ekspektasi juga bisa membuat Mama kehilangan jati diri. Mama lupa siapa dirinya di luar status sebagai orang tua, istri, atau jabatan di pekerjaan. Dampaknya, rasa puas, bahagia, atau sekadar merasa cukup jadi makin langka karena hidup terasa seperti menjalankan kewajiban tanpa ruang untuk diri sendiri.
Baca Juga: Midlife Slump, Semacam Quarter Life Crisis Part Dua?
Cara Menghadapi Duck Syndrome pada Orang Tua

Menjalani peran sebagai orang tua bukan berarti harus selalu sempurna sehingga mengabaikan diri sendiri. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menghadapi duck syndrome pada orang tua.
1. Memahami Batasan Diri
Mam, nggak ada yang sempurna. Mama tetap boleh berusaha memberikan yang terbaik, tapi penting juga untuk tahu kapan harus berhenti sejenak dan merawat diri sendiri. Lagipula, menyadari batasan bukan kelemahan, tapi bentuk kebijaksanaan.
Baca Juga: Mengatasi Kejenuhan Mengasuh Anak: 7 Tips yang Pasti Ingin Mama Dengar!
2. Minta Tolong Itu Manusiawi
Dengan tahu kapan harus minta tolong, Mama bisa fokus pada hal-hal yang lebih prioritas dan menghemat energi untuk hal yang benar-benar penting. Jangan ragu untuk bilang, “Aku butuh bantuan”—karena menjadi orang tua bukan pekerjaan satu orang. Kata pepatah “it takes a village to raise a child”.
3. Bangun Support System
Support system nggak harus selalu harus dalam bentuk komunitas besar atau grup parenting yang aktif tiap hari. Kadang, dukungan terbaik datang dari pasangan yang mau berbagi tugas, anak yang mulai diajak bekerja sama, atau teman dekat yang bisa diajak curhat meski hanya lewat telepon. Apa pun bentuknya, yang penting, ada ruang untuk merasa didengar dan didukung.
Baca Juga: Pembagian Peran dalam Pengasuhan Anak, Harus 50:50?
4. Istirahat
Mama bukan robot. Ketika merasa lelah, Mama juga perlu beristirahat karena tubuh dan pikiran juga butuh jeda. Ambil cuti kalau bisa, dan jangan ragu berbagi pekerjaan rumah tangga dengan suami.
5. Validasi Perasaan Sendiri
Capek, bingung, sedih, marah—semua itu valid. Jangan buru-buru mengabaikan atau menutupi perasaan hanya demi terlihat “baik-baik saja”. Mengakui emosi adalah langkah awal untuk benar-benar memproses dan memahami diri. Dari sana, Mama bisa tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk kembali seimbang.
Baca Juga: Mengelola Ekspektasi Keluarga Besar: Pentingnya Menjaga Keseimbangan Hidup
Menjadi orang tua bukan berarti harus selalu terlihat tenang di permukaan sambil mengayuh sekuat tenaga di bawahnya. Duck syndrome bisa terasa sunyi, tapi bukan berarti Mama harus menjalaninya sendirian dan terus-menerus memaksakan diri.
Pelan-pelan, izinkan diri untuk lebih jujur, lebih ringan, dan lebih hadir dalam menjalani peran yang sudah luar biasa ini.
Dan kalau Mama sedang butuh jeda, tahu nggak? Sewa mainan di Mamasewa bisa jadi cara praktis untuk mengisi waktu si kecil tanpa harus repot. Mainan bisa berganti, dompet tetap aman, dan Mama bisa punya sedikit waktu luang untuk mengisi ulang energi. Setuju?































































