Bertengkar dengan pasangan memang hal yang wajar, tapi tidak jika dilakukan di depan anak. Alasannya karena anak-anak belum memiliki pemahaman yang matang tentang konflik dan sering kali menyerap emosi negatif yang mereka lihat begitu saja. Jika disepelekan, ini adalah bahaya bertengkar di depan anak yang mungkin harus Anda hadapi. Yuk, simak sampai tuntas!
Bahaya Bertengkar di Depan Anak
Setiap pasangan pasti pernah berbeda pendapat dan ada kalanya itu terjadi di depan anak. Sebagian orang tua mungkin berpikir bahwa anak tidak akan mengerti dan segera melupakannya. Padahal, suasana tegang dan kata-kata yang terlontar saat bertengkar bisa meninggalkan dampak besar bagi anak, bahkan terbawa hingga dewasa. Berikut ini adalah bahaya bertengkar di depan anak yang harus Anda waspadai.
1. Membuat Anak Merasa Tidak Aman

Rumah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak. Namun, kalau orang tuanya sering bertengkar, anak bisa merasa cemas dan takut akan perpecahan dalam keluarganya.
Mereka mungkin mulai khawatir apakah orang tuanya masih saling mencintai atau justru ingin berpisah. Ini bisa membuat anak sedih dan sulit memercayai keluarganya.
2. Meningkatkan Stres dan Kecemasan pada Anak
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik lebih rentan mengalami stres. Mereka mungkin merasa tegang setiap kali melihat orang tua mulai berselisih, bahkan saat pertengkaran kecil sekalipun.
Dalam jangka panjang, stres ini dapat berdampak pada kesejahteraan fisik dan emosional anak, seperti gangguan tidur, sakit tanpa sebab yang jelas, atau mudah cemas dalam situasi tertentu.
Baca Juga: Stress Language Anak: Apa Itu dan Macam-macamnya
3. Meniru Cara Berkonflik yang Tidak Sehat
Anak belajar dari lingkungan sekitarnya, terutama dari orang tua. Jika anak terbiasa melihat pertengkaran yang penuh teriakan, kemarahan, atau sikap saling menyalahkan, mereka bisa menganggap bahwa itu adalah cara yang normal untuk menyelesaikan masalah.
Akibatnya, mereka berpotensi tumbuh dengan pola komunikasi yang agresif atau justru menghindari konflik dengan cara yang tidak sehat.
4. Mengganggu Perkembangan Emosional Anak

Anak-anak juga mungkin mengalami kesulitan dalam mengatur emosinya sendiri. Mereka jadi lebih mudah marah, merasa tidak stabil secara emosional, atau bahkan menutup diri dari lingkungan sosial.
Jangka panjangnya, ini bisa memengaruhi cara anak menangani stres dan membangun hubungan dengan orang lain.
5. Membuat Anak Menyalahkan Diri Sendiri
Anak kecil sering kali berpikir bahwa pertengkaran orang tua terjadi karena kesalahan mereka. Misalnya karena mereka nakal dan tidak patuh sehingga membuat orang tuanya marah.
Perasaan bersalah ini bisa membebani anak dan membuatnya tumbuh dengan perasaan tidak cukup baik atau selalu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.
Baca Juga: 10 Bahaya Membandingkan Anak, Sama Sekali Tidak Memotivasi!
6. Meningkatkan Risiko Masalah Perilaku
Anak yang sering melihat pertengkaran bisa menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih agresif, sulit diatur, atau sebaliknya—menjadi sangat pendiam dan menarik diri dari lingkungan.
Mereka juga bisa mengalami kesulitan dalam mengikuti aturan di rumah atau sekolah karena merasa tidak ada kepastian dalam kehidupan mereka.
7. Membuat Anak Kesulitan Membangun Hubungan di Masa Depan

Mama dan Papa mungkin lupa bahwa anak kecil ini kelak juga akan tumbuh dewasa dan memulai kehidupannya sendiri. Maka sekarang bayangkan, apa jadinya jika anak tumbuh di lingkungan penuh konflik.
Mereka mungkin akan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat saat dewasa nanti. Mereka bisa menjadi takut terhadap komitmen, mudah tersulut emosi, atau bahkan mengulang pola pertengkaran yang sama.
8. Memengaruhi Hubungan Anak dan Orang Tua
Pertengkaran yang terus-menerus bisa membuat anak merasa lebih dekat dengan salah satu orang tua dan menjauh dari yang lain. Mereka mungkin merasa harus memilih salah satu pihak—yang akhirnya merusak hubungan dengan salah satu atau bahkan kedua orang tua.
Dalam beberapa kasus, anak bisa kehilangan rasa hormat dan kepercayaan pada jika terus-menerus melihat orang tuanya bertengkar.
Baca Juga: Parental Alienation Syndrome: Apa Itu dan Bahayanya bagi Anak
9. Menghambat Konsentrasi dan Prestasi Akademik
Stres akibat melihat pertengkaran di rumah bisa terbawa ke sekolah. Ini bisa membuat anak sulit berkonsentrasi dan belajar.
Mereka mungkin sudah merasa lelah secara emosional sehingga tidak semangat mengikuti pelajaran atau bergaul dengan teman-temannya. Pada akhirnya, ini bisa menyebabkan penurunan prestasi akademik karena pikirannya terus dipenuhi oleh ketegangan di rumah.
10. Meningkatkan Risiko Gangguan Mental di Masa Depan

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang sering melihat pertengkaran orang tua memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental seperti kecemasan, depresi, atau bahkan trauma emosional saat dewasa.
Itu terjadi karena tumbuh di lingkungan yang penuh konflik bisa membuat seseorang merasa tidak berdaya dan sulit menemukan rasa aman dalam hidupnya.
Baca Juga: Tips Menghadapi Kritik Pengasuhan Anak, Cara Keren Wajib Dicoba!
Cara Menghindari Bertengkar di Depan Anak
Konflik dalam pernikahan adalah hal yang wajar, tetapi sebagai orang tua, penting untuk menjaga agar pertengkaran tidak terjadi di depan anak. Berikut beberapa cara yang bisa Mama dan Papa lakukan untuk menghindarinya.
1. Tunda Pembicaraan hingga Anak Tidak Ada di Sekitar

Jika perbedaan pendapat mulai memanas, cobalah menahan diri dan menunda pembicaraan sampai anak tidak ada di sekitar—seperti saat anak sudah tidur atau main di luar rumah.
Ini supaya anak tidak perlu menyerap emosi negatif kedua orang tuanya, sekaligus memberi kesempatan bagi Mama dan Papa untuk berpikir lebih jernih sebelum berdiskusi.
2. Gunakan Nada Tenang dan Bahasa yang Sopan
Jika konflik tidak bisa dihindari dan perlu segera dibahas, pastikan untuk tetap berbicara dengan nada tenang dan bahasa yang sopan.
Hindari teriakan, sindiran, atau kata-kata kasar. Dengan begitu, anak tidak merasa terancam dan bisa belajar bahwa perbedaan pendapat bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik.
Baca Juga: Mengajari Anak Nilai Persahabatan: Tips Membangun Hubungan yang Sehat Sejak Dini
3. Buat Kesepakatan untuk Tidak Saling Menyalahkan
Sering kali pertengkaran semakin memanas karena masing-masing pihak sibuk menyalahkan. Ketika ini terjadi, coba kembalikan fokusnya pada solusi daripada mencari siapa yang salah.
Kalau pun ada perbedaan pandangan, diskusikan dengan kepala dingin dan cari titik tengah yang bisa diterima bersama.
4. Cari Waktu Khusus untuk Mendiskusikan Masalah Rumah Tangga

Alih-alih membahas masalah secara spontan di tengah kesibukan, buatlah waktu khusus untuk berdiskusi tentang hal-hal penting dalam rumah tangga secara rutin. Misalnya, setiap akhir pekan atau akhir bulan untuk membahas isu perbedaan pola asuh, situasi keuangan keluarga, atau hal lain yang bisa menjadi pemicu konflik.
Dengan cara ini, pembicaraan lebih terarah dan tidak meledak tiba-tiba di depan anak.
5. Gunakan Waktu ‘Cooling Down’ sebelum Berdiskusi
Saat emosi sedang mencapai puncaknya, akan sulit bagi Mama dan Papa untuk berpikir rasional. Maka, jangan terpancing emosi dan menyebutkan konklusinya.
Lebih bijak jika Anda memberi jeda sebelum melanjutkan diskusi. Misalnya, dengan menarik napas dalam-dalam, berjalan sebentar, atau menenangkan diri sebelum kembali membahas masalah.
Baca Juga: Bahaya Stonewalling: Pentingnya Menavigasi Percakapan Sulit
6. Diskusikan Masalah dengan Pendekatan Problem Solving
Alih-alih berdebat tanpa arah, ubah cara komunikasi menjadi lebih terstruktur dengan pendekatan pemecahan masalah.
Mulailah dengan menyampaikan pendapat masing-masing tanpa menyerang. Setelah itu, Mama dan Papa bisa mencari solusi yang bisa diterapkan tanpa harus merugikan salah satu pihak.
7. Gunakan Teknik ‘I Message’ untuk Menghindari Konflik Lanjutan

Salah satu teknik komunikasi yang paling efektif saat berkonflik adalah “I Message”, yaitu menyampaikan perasaan tanpa menyalahkan pasangan.
Misalnya, daripada berkata “Kamu selalu tidak peduli dengan anak”, lebih baik jika Anda mengatakan “Aku merasa kewalahan mengurus anak sendirian, bisakah kita berbagi tugas?”. Ini membuat pasangan lebih mudah memahami tanpa merasa diserang.
Tidak mudah memang menjadi orang tua dengan segala tantangannya. Namun, sebagai orang dewasa yang sudah matang, tidak bijak meluapkan emosi di depan anak secara berlebihan. Apalagi setelah Anda memahami bahaya bertengkar di depan anak.
Yuk, bersamai perjalanan Anda menjadi orang tua dengan bacaan yang informatif dan inspiratif dari Mamasewa. Anda juga bisa melengkapi berbagai perlengkapan dan kebutuhan si kecil dengan menyewanya di sini!
