cara mengajarkan anak untuk berbagi

Perhatikan! Berikut Beberapa Cara Mengajarkan Anak untuk Berbagi

Percaya atau tidak, berbagi merupakan suatu konsep yang dirasa asing bagi kebanyakan balita. Inilah sebabnya Mama perlu segera mencari tahu cara mengajarkan anak untuk berbagi. 

Coba Mama bayangkan bagaimana si kecil saat tumbuh dewasa nanti, bilamana pola pikir ‘milikku’ masih merajai dirinya. Melansir laman Today’s Parent, anak berumur 2 tahun memiliki konsep pemikiran “berbagi = mengambil barang milik orang lain” yang kuat. Jika pada usia 4 tahun — masa bertumbuhnya rasa empati — mereka belum memahami hakikat berbagi, ada kemungkinan mereka tumbuh menjadi pribadi yang egois.

Maka itu, Mam, gunakanlah masa kecil sang buah hati sebaik mungkin. Kenali situasi dan tempatkan harapan sesuai kondisi si kecil. Teruslah mengajarkan si kecil cara berbagi dengan orang lain, sampai mengakar kuat menjadi karakter dan nilai hidup mereka, bukan sekadar melakukannya karena takut mendapatkan teguran dari Papa Mama.   

Berikut beberapa cara mengajarkan anak untuk berbagai yang bisa Mama lakukan di rumah. Simak baik-baik, ya!

1. Ajarkan Konsep Egois Terlebih Dahulu Sebelum Memutuskan untuk Mengajarinya Tentang Berbagi 

cara mengajarkan anak untuk berbagi
Photo by Victor Chaidez on Unsplash

“Lho, kok mengajarkan konsep keegoisan terlebih dahulu?” Mungkin beberapa di antara Mama ada yang bertanya-tanya. Heran dan takut bercampur satu sekaligus.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan mendidik anak untuk menjadi pribadi yang egois dulu, lho, Mam. Justru ini langkah yang bagus. Karena, pada kenyataannya kata pertama yang dikeluarkan oleh si kecil adalah “milikku”.

Anak yang sedang dalam masa pertumbuhannya mengembangkan keterikatan emosional pada benda dan orang-orang. Pembentukan keterikatan ini sangatlah penting untuk menjadikan si kecil sebagai orang yang sehat secara emosional. 

Selain itu, kepemilikan atas mainan juga menjadi identitas mereka. Dengan mengetahui seberapa pentingnya mainan bagi anak, mereka akan tahu kapan bisa meminjamkannya kepada anak lain. Mama pun bisa lebih efektif dalam meyakinkan mereka untuk berbagi mainannya.

2. Tidak Menghukumnya Ketika Memutuskan Tidak Berbagi adalah Cara Efektif dalam Mengajarkan Anak untuk Berbagi?

cara mengajarkan anak untuk berbagi
Photo by Omar Lopez on Unsplash

Mungkin memalukan melihat anak Mama merebut boneka teddy bear miliknya dari temannya, bahkan memutuskan tidak meminjamkan mainan itu lagi ke temannya. Nah, saat seperti ini, sebaiknya Mama tidak melabeli dirinya sebagai anak egois, karena bisa saja dia menangkap pesan berbagi sebagai sesuatu yang buruk.

Alih-alih menyadari perbuatannya, mereka malah merasa malu dan defensif. Ini pun membuat dirinya kesulitan atau takut mempelajari hal-hal baru. Jadi, cobalah untuk memberi anak Mama kelonggaran, dan akui kalau dia mungkin tidak bermaksud jahat atau kasar dengan menolak untuk berbagi.

Perlu Mama ingat bahwa wajar jika anak Mama ingin menyimpan beberapa barang untuk dirinya sendiri, itu artinya ia sedang mengembangkan pemahaman tentang rasa memiliki sesuatu. Yakinlah bahwa saat dia dewasa, dia akan belajar betapa menyenangkannya berbagi ketimbang bermain sendiri.

3. Tekankan kepada si kecil Kalau Berbagi Bukan Sekadar Memberi Hadiah

cara mengajarkan anak untuk berbagi
Photo by Robert Collins on Unsplash

Berbagi bukan hanya tentang memberi hadiah, entah meminjamkan ataupun menghadiahkan boneka untuk teman. Mama juga perlu menekankan kepada si kecil kalau menggunakan jatah giliran secara adil tergolong sebagai perbuatan berbagi.

Berilah contoh dan dorong si kecil untuk melakukan semua perbuatan berbagi. Baik itu membuat sup untuk diberikan ke tetangga yang sedang sakit ataupun mengantre di toko kelontong. Yang jelas, biarkan si kecil melihat bagaimana Mama melakukan perbuatan berbagi sambil menyebutkan kata “berbagi” kepadanya. 

4. Cara Mengajarkan Anak untuk Berbagi Lainnya? Menggunakan Timer!

cara mengajarkan anak untuk berbagi
Photo by Veri Ivanova on Unsplash

Gunakan metode waktu pemakaian apabila terjadi pertengkaran antara si kecil dengan temannya dalam memperebutkan hak mainannya. Biarkan anak-anak mengambil nomor undian untuk mendapatkan jatah giliran memainkan mainannya. Kemudian atur waktu dua menit pada timer. Ketika berbunyi, maka mainan itu pergi ke anak kedua. Dan begitu seterusnya.

Jika metode ini tidak berhasil, batasilah hak mainan si kecil. Letakkan mainan di atas rak dan jelaskan bahwa mainan itu tetap di sana sampai mereka belajar membagikannya. Ia mungkin merajuk untuk sementara waktu karena mainannya tidak digunakan, tetapi cepat atau lambat kesadarannya muncul bahwa lebih baik berbagi daripada kehilangan mainan sepenuhnya. 

5. Mengajarkan Konsep Keterbatasan dalam Memiliki Sesuatu

Jika anak Mama kesulitan membagikan mainannya dengan teman-temannya, cobalah rutin mendatangkan mainan sewaan pada si kecil. Tentu si kecil tidak akan menolak mainan yang baru bagi mereka.

Berbagai mainan di Mamasewa bisa jadi pilihan terbaik Mama. Ada sepeda motor, pistol mainan, keyboard, dan wahana lainnya yang bisa Mama pilihkan pada si kecil. Selain menumbuhkan rasa empati mereka, Mama pun bisa tetap cerdas dalam mengelola keuangan keluarga. 

Dengan menyewa mainan, anak Mama akan menyadari betapa terbatas haknya dalam memiliki sesuatu. Apalagi jika Mama menekankan larangan merusak atau mengotori mainan sewaan, barang tentu si kecil akan memahami konsep berbagi “barang bagus” dengan pihak penyewa. Jelas si kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang jujur, tidak egois, dan mengedepankan keadilan.

Itulah beberapa cara mengajarkan anak untuk berbagi. Masa kanak-kanak merupakan masa terbaik dalam menumbuhkembangkan rasa empati si kecil. Demikianlah Mama perlu mengajarkannya cara berbagi agar ia tumbuh menjadi individu yang ramah bersahabat terhadap orang lain.

parenting anak

5 Prinsip Parenting Anak Untuk Dukung Kesuksesan Di Masa Depan!

Menerapkan pola pengasuhan yang ideal pada anak perlu dipahami oleh para orang tua. Mendidik anak dengan cara yang benar sangat penting untuk membentuk karakter si Kecil, agar ia menjadi pribadi yang baik hingga dewasa kelak. Kesalahan orang tua dalam parenting anak dapat memengaruhi perilaku si Kecil di kemudian hari. Maka dari itu, untuk membentuk karakter positif pada anak, orang tua wajib memahami prinsip pola asuh yang ideal.

Setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh pola asuh orang tua saat mereka kecil. Mendidik anak dengan hal-hal yang positif akan membawanya menjadi sesorang yang juga positif perilaku dan mentalnya. Sebaliknya, jika anak dididik dengan keras maka ia juga akan menjadi pribadi yang keras. Akan menjadi apa si Kecil nantinya ditentukan pola asuh sejak usia dini. Maka dari itu penting bagi orang tua memahami prinsip-prinsip parenting anak. Yuk simak tipsnya berikut ini.

Parenting Anak yang Wajib Dilakukan Orang Tua

parenting anak

1. Rutin Meluangkan Waktu Untuk si Kecil

Perhatian dari orang tua merupakan kebutuhan bagi si Kecil agar ia dapat tumbuh dengan kasih sayang yang cukup. Memberikan perhatian secara rutin, berpengaruh pada psikologis si Kecil yang dapat membentuk tindakan-tindakan baik pada dirinya kelak.

Sebaliknya, jika si Kecil merasa kurang diperhatikan, bukan tidak mungkin ia akan melakukan tindakan-tindakan buruk untuk menarik perhatian orang tuanya. Tidak hanya Mama saja yang perlu meluangkan waktu dan memberikan perhatian untuk si Kecil, Papa pun perlu melakukan hal yang sama. Parenting anak dengan quality time ini, juga untuk membangun hubungan baik si Kecil dengan kedua orang tuanya.

Orang tua dapat menjadwalkan waktu berkualitas dengan si Kecil melalui cara-cara sederhana seperti menemani bermain, mengantar ke sekolah, menanyakan aktivitas yang ia lakukan di sekolah, atau sekadar makan bersama.

2. Tidak Terlalu Memanjakan si Kecil

Orang tua sering tidak tega jika anaknya dalam kesusahan atau kesulitan. Apalagi kalua si Kecil sampai merengek, hati orang tua mana yang tak iba. Sehingga, tak jarang orang tua selalu mengusahakan dan menuruti setiap kemauan si Kecil.

Menuruti kemauan si Kecil merupakan dukungan yang baik untuknya, tapi orang tua harus bijaksana dalam memenuhi permintaannya. Tidak semua permintaan si Kecil harus dipenuhi, karena hal ini akan membuatnya terlalu manja. Ada kalanya Mama dan Papa harus mendukung si Kecil untuk mendapatkan apa yang ia mau dengan usahanya sendiri. Jadi, nggak ada salahnya sesekali menolak atau tidak menuruti kemauan si Kecil, jika dampaknya kurang baik untuk anak di masa depan.

Misalnya, jika si Kecil meminta main game smartphone setiap hari, Mama tidak boleh menurutinya terus-menerus. Parents bisa melatihnya disiplin dengan membolehkan ia bermain game saat akhir pekan atau libur sekolah. Karena, jika si Kecil keasikan main game dan tidak terkontrol, hal ini dapat mempengaruhi aktivitas dan tanggung jawabnya seperti mengerjakan PR sekolah akan terbengkalai, hingga kecanduan game. Untuk itu parenting anak yang tepat benar-benar perlu diterapkan pada si Kecil.

3. Mengajarkan Kemandirian pada si Kecil

Mengajarkan kemandirian pada si Kecil perlu ditanamkan sejak dini agar ia terbiasa menjadi pribadi yang mandiri. Parenting anak ini dapat dilakukan orang tua untuk mengasah kemandirian. Misalnya, membiasakan si Kecil makan sendiri, merapikan mainannya, atau membersihkan tempat tidurnya sendiri. Dengan memberikan kepercayaan padanya, ia juga akan bertanggung jawab untuk menghadapi masalahnya sendiri.

Setelah si Kecil mulai berlatih mandiri, memberikan apresiasi atas apa yang dikerjakannya juga penting. Apresiasi atas usaha dan keberhasilannya dapat mendorong si Kecil tetap semangat dan konsisten meningkatkan kemandirian.

4. Membiasakan si Kecil Disiplin di Rumah

Menerapkan kedisiplinan di rumah dapat melatihnya memahami hal-hal yang benar dan tidak, baik dan buruk. Si Kecil juga akan lebih terbiasa mengontrol dirinya. Orang tua bisa menjelaskan kepadanya mengapa kedisiplinan penting, mengapa hal ini harus dilakuan, mengapa hal itu tidak boleh dilakukan.

Misalnya ketika tiba jam makan, ia harus menghentikan semua aktivitasnya dulu dan meluangkan waktu untuk makan pada jam tersebut. Makan adalah kebutuhan dasar yang harus dilakukan tepat waktu untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Dengan demikian ia akan mengerti dan tidak mengabaikan kesehatan dirinya.

Pola tersebut juga bisa diterapkan pada hal-hal lain yang memerlukan kedisiplinan seperti mematuhi jam tidur dan bangun, belajar, membatasi waktu bermain, dan sebagainya. Dengan demikian, si Kecil akan terbiasa disiplin yang memudahkannya dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

parenting anak

5. Menjadi Contoh yang Baik Untuk si Kecil

Katika masih berusia anak-anak sifat alami si Kecil cenderung melakukan imitasi atau meniru perilaku orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, orang tua wajib memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak-anaknya. Menajdi panutan untuk si Kecil merupakan parenting anak yang sangat penting, karena perilaku anak akan terbentuk dari contoh yang diberikan orang tua.

Misalnya, orang tua mengjarkan cara berkomunikasi yang baik padanya, ramah terhadap orang lain, berkata jujur, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan lain sebagainya.

Nah Ma, itu dia prinsip parenting anak yang bisa diterapkan agar tumbuh kembang si Kecil optimal. Pola asuh anak yang baik dapat membentuk keceriaan, kemandirian, kepedulian dan hal positif lainnya yang membantu si Kecil tumbuh menjadi pribadi baik.

Dalam menjalankan prinsip parenting anak, Mama bisa memberikan fasilitas yang memadai untuk si Kecil yang dapat menunjang pertumbuhannya. Misalnya, untuk menumbuhkan kecerian buah hati tercinta, tak ada salahnya Mama meberikan mainan-mainan yang menyenangkan dan positif. Tidak harus membeli mainan mahal Ma, karena Mama bisa menyewa berbagai mainan si Kecil di Mamasewa.com dengan mudah dan murah. Tempat sewa kebutuhan si Kecil Mamasewa.com menyediakan berbagai permainan seru seperti trampolin, perosotan, hingga kolam renang karet yang bisa bantu tumbuh kembang si Kecil. Selain itu, dapat menjadi bentuk perhatian orang tua pada anak. Yuk, Ma sewa mainan seru untuk si Kecil sekarang juga!